close

Dialog Cucu dan Kakek tentang Potensi Genius Teman-teman di Desa

Dialog Cucu dan Kakek tentang Potensi Genius Teman-teman di Desa

Oleh:  Prof. Sudjarwadi

Cucu Aleita sedang mendengarkan Nenek Yatica yang menceritakan bacaan resep-resep masakan yang menurut Nenek merupakan pilihan lauk lezat, sekaligus membuat sehat. Kakek duduk di sebelahnya, hanya ikut mendengarkan sembari membaca sebuah buku. Setelah Cucu selesai mendengarkan Nenek, ia pulang, sementara Kakek dan Nenek melakukan kegiatan sesuai hobi masing-masing.

Kakek menuju ke ruang kerja, berdialog imajiner tentang membangun desa. Pendekatan membangun desa diantaranya melalui pendidikan yang melahirkan pengusaha-pengusaha di  desa. Kakek Situtena teringat beberapa pembicaraan dengan tiga orang sahabatnya yang dipanggil dengan nama Om Susece, Mas Pijaen dan Mas Autaba.

Om Susece pernah menceritakan bahwa banyak kenalannya yang telah membangun desa dengan karya nyata yang sukses. Jumlah yang sukses mungkin ada ratusan. Bila setiap tahun dapat bertambah 1.000 orang pengusaha sukses di desa, dalam empat puluh tahun ada 40.000 pengusaha sukses di desa-desa di Indonesia. Beberapa kawan memberi kabar bahwa membangun desa sukses memiliki banyak rintangan dan kendala, diantaranya adalah mental proyek. Menurut beberapa teman, mental proyek tersebut tidak akan melahirkan desa yang cerdas secara realitas, tetapi hanya melahirkan desa yang cerdas dalam laporan proyek. Kabar tersebut menjadi latar belakang renungan kakek Situtena.

Susece berpendapat bahwa pengusaha desa perlu mempunyai wawasan dan pengetahuan tentang pengembangan desa, agar dengan modal pengetahuan tersebut, pengusaha dapat menempatkan diri pada posisi terbaik di desanya. Setiap desa memiliki keterbatasan sesuai situasi dan kondisi masing-masing.

Kata-kata kunci Susece diantaranya adalah tekanan perkembangan kota terhadap desa dalam banyak aspek yang menimbulkan banyak hambatan pembangunan desa. Pokok pikiran untuk solusi yang dituju adalah peningkatan kemampuan mengubah ancaman-ancaman menjadi peluang. Dalam urusan tersebut, diperlukan kemampuan entrepreneur di desa. Entrepreneur desa perlu memiliki “tokoh”. Tokoh tersebut harus memahami strategi berwirausaha sesuai kondisi setempat berdasarkan keadaan yang ada. Sebenarnya, telah ada tokoh-tokoh setempat yang memiliki adat bernilai positif dan bagus, tetapi beberapa mulai luntur. Telah terjadi transformasi kegiatan eonomi di desa dengan ciri masing-masing, tergantung “nasib” suatu desa.

Kakek Situtena teringat sahabat mudanya yang bernama Mas Pijaen yang suka berpikir bahwa desa dapat berfungsi sebagai laboratorium penelitian. Penelitian di laboratorium tersebut dapat menemukan potensi desa terkait sistem ekonomi dan berbagai karakteristik simpul-simpul dalam suatu sistem jejaring kehidupan desa. Simpul-simpul bagaikan elemen-elemen dalam sebuah sistem unik setempat dan memiliki identitas desa. Keterhubungan semua simpul dengan simpul-simpul kegiatan ekonomi dapat menjadi satu latar belakang tujuan spesifik. Pijaen selalu berpikir bahwa solusi utama membangun desa adalah membuat sekolah ekonomi desa.

Sahabat Situtena berikutnya bernama Autaba. Ia berpikir untuk memahami potensi desa, memahami masalah dan dapat mengidentifikasi kebutuhan. Berdasarkan hal-hal tersebut, kemudian dilakukan penyiapan para pengusaha desa dengan proses edukasi konsep, strategi tindakan, dan pelatihan-pelatihan khusus. Autaba memilih bekal utama edukasi dari pemikiran Kiyosaki, penulis buku Amerika dari Jepang.

Kakek Situtena berdialog imajiner dengan Warren Buffet, seorang pebisnis yang sangat berkesan di hatinya.

 “Ada tiga hal ditambah dua hal lainnya, jadi secara utuh ada lima,” jawab Warren Buffet.

 “Kamu bercerita bahwa sering berdialog dengan generasi Z, cucumu, Aleita. Saya sampaikan tiga hal dulu ya, untuk dibicarakan dengan Cucu. Tiga hal tersebut, yaitu: a) integritas pengusaha desa, b) kebangkitan kegeniusan pengusaha desa, dan c) energi pengusaha desa,” jawab Warren.

###

Beberapa hari kemudian, Cucu Aleita datang ke ruang kerja kakeknya pagi-pagi sekali. Aleita datang sambil langsung mengajukan pertanyaan.

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

SEDAYU, KABUPATEN BANTUL, DI YOGYAKARTA

Rp.368,000,000

“Ada berita menarik apa Kek hari ini?” tanya si Cucu.

“Kakek akan pergi ke halaman dua jam, kamu baca sendiri dulu catatan saya, kakek akan menyiram beberapa tanaman dan merawatnya. Nanti, saya kembali ke ruang kerja.” Jawab kakeknya.

Ketika kakek menyiram tanaman, Lei membaca catatan kakek sambil melihat-lihat buku yang ada di meja kakek. Setelah sekitar dua jam, kakeknya masuk ruang kerja dan menyapa.

“Gimana Lei, adakah yang menarik untuk ditanyakan?” sapa kakeknya.

“Ada. Tentang kata-kata dalam catatan kakek, yaitu integritas, kegeniusan, dan energi yang menurut kakek merupakan pendapat Warren Buffet,” tanya cucunya.

“Oh iya, tadi saya baca-baca tulisan di beberapa naskah seminar yang kakek pernah ikuti dan saya juga sudah mengecek di Google tentang kata genius. Tulisannya mirip-mirip, di ataranya ada dua dalam bahasa Inggris, yaitu: 1) “Everyone is born a genius, but the process of life de-geniuses them.” --R. Buckminster Fuller dan 2) “EVERYBODY is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, It will live its whole life believing that it is stupid.” --Albert Einstein. Sangat menarik, Kek. Saya ingin penjelasan Kakek tentang kegeniusan orang,” tambah cucunya.

Kakeknya menjelaskan bahwa sebenarnya memang tidak ada definisi pasti tentang kata genius yang diterima oleh semua orang.  Pemahaman dan persepsi tentang kata genius berbeda-beda walaupun ada persepsi yang tidak mendalam dan umum sebagai gambaran imajinasi banyak orang. Secara umum, orang menangkap sebuah gambaran penampilan orang genius, yaitu orang kreatif dan memiliki capaian-capaian unik dan spesifik yang tidak dicapai oleh orang-orang pada umumnya.

Menurut pendapat R. Buckminster Fuller, setiap orang itu terlahir genius. Namun kegeniusan tidak tumbuh subur karena proses hidupnya merupakan medium yang tidak menumbuhsuburkan kegeniusan tersebut. Pendapat Pak Albert Einstein pun sejenis. Ia mengatakan bahwa seseorang itu genius pada bakatnya masing-masing dan perlu ditugasi mengembangkannya. Misalnya seekor ikan tentu sangat pandai berenang, tetapi ikan akan bodoh selamanya dalam memanjat pohon.

“Berarti Lei, kegeniusan akan tumbuh bila mengembangkan diri dengan proses hidup yang cocok dan memilih kegiatan-kegiatan belajar sepanjang hayat sesuai bakatmu,” kata Kakek kepada Cucu.

“Waah, wah, wah. Berarti, kepala desa, orang desa, semuanya dapat dilatih mengeluarkan kegeniusannya memajukan desa ya, Kek,” jawab Cucu.

“Betul, dan itu kita bicarakan pada pertemuan berikutnya ya,” hari sudah siang, sampai bertemu lain kali.

Demikianlah pagi hari itu. Lei pulang ke rumahnya dengan gembira  karena mendapat inspirasi bahwa teman-teman di desa dan dirinya sebenarnya bisa belajar baik dan menempuh proses hidup yang baik agar kegeniusan tumbuh dan berkembang bagus.

 


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR


Kavling 100 M2 hanya Rp 60 Juta sudah SHM dan GRATIS Pondasi

Kavling 100 M2 hanya Rp 60 Juta sudah SHM dan GRATIS Pondasi


Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan

Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan


Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru