close

Yatica Makin Paham tentang Makanan Kesukaan Kakek Situtena

Yatica Makin Paham tentang  Makanan Kesukaan Kakek Situtena

Sabtu sore, kebanyakan orang menyebutnya malam minggu, adalah waktu santai yang umumnya dinikmati oleh para pensiunan yang telah selesai masa bakti bekerja sebagai pegawai negeri. Di banyak negara, pegawai negeri diberi istilah pelayan sipil (civil servant). Para pensiunan menerima uang pensiun.
Tidak jarang pensiunan yang biasa bekerja giat setelah pensiun suka menciptakan pekerjaan sendiri untuk mengisi waktu. Kadang-kadang, pekerjaan pensiunan bahkan bermacam-macam dan mereka sering menambah alokasi waktu mereka untuk kegiatan rumah dan sosial. Kakek Situtena termasuk salah satu dari pensiunan yang menambah porsi waktu untuk kegiatan rumah dan sosial tersebut.
Selain bekerja di halaman rumah, Situtena kadang pergi ke dapur untuk melakukan sesuatu. Waktu untuk ke dapur biasanya pada hari Sabtu dan Minggu. Pada akhir minggu lalu, Situtena mempunyai pengalaman unik ketika berada di  dapur, yaitu membuat sambal, yang menurut bahasa lokal Jogja disebut sambel bawang (sambal bawang putih). Komponen utama sambel bawang adalah cabai, bawang putih, dan garam. Ketika kakek sedang mengerjakan proses menyambal, kebetulan, Yatica, isterinya, pergi ke dapur juga karena ada sesuatu yang perlu ia ambil untuk menambah bumbu masakannya.
“Lho, sedang apa, Yang?” sapa Yatica.
“Biasa, sedang nyambal di akhir pekan,” jawab Situtena.
“Tidak pernah bosan dengan sambal, ya?” lanjut isterinya.
“Belum, semoga tidak pernah bosan. Aku dengar, selain lezat, sambal seperti yang aku buat juga sehat berkhasiat,” begitulah jawab Situtena.
Dua  orang tua di dapur tersebut lalu melakukan kegiatan masing-masing sambil berbicara. Yatica menyampaikan informasi yang ia dapat dari video tentang penjelasan makanan sehat dari seorang dokter. Dalam video tersebut, disampaikan bahwa cabai banyak mengandung vitamin C yang baik untuk kesehatan. Usia Situtena telah 73 tahun dan usia Yatica sudah 70 tahun. Alhamdulillah, masih dikaruniai kesehatan yang dapat mendukung aktivitas harian sesuai hobi masing-masing yang positif.
Pembicaraan Situtena dan Yatica berkisar tentang makanan, utamanya tentang sambal. Situtena menyampaikan pendapatnya bahwa orang desa zaman dahulu pintar, telah menemukan lauk yang disebut sambal, sebagai penyegar. Tentu telah dilakukan penelitian secara tidak langsung dari abad ke abad dengan ilmu titen, niteni (mencatat dalam pikiran, to identify), dan pengalaman hasil titen terebut dituturkan dari generasi ke generasi. Orang generasi X banyak yang menyukai sambal dan mengonsumsinya sebagai lauk penyegar, sekaligus sebagai pendukung kesehatan tubuh. Selain menikmati kenyamanan rasa, Situtena juga mengetahui rincian manfaat sambal.
Saling bertukar informasi dan pengetahuan melalui grup WA, para pensiunan kadang membicarakan informasi yang mereka dapatkan dari video Youtube dengan konten penjelasan dari dokter-dokter. Dibanding buah-buahan asam, ternyata cabai mengandung konsentrasi vitamin C yang jauh lebih tinggi daripada buah-buahan, lebih dari dua kali lipatnya. Selain kandungan vitamin C, cabai juga mempunyai provitamin A yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan berbagai jenis buah, misalnya semangka, nanas, jeruk, dan mangga.
Bahkan, salah satu teman Situtena memberi tahu bahwa berdasarkan suatu penelitian di salah satu universitas di Amerika, zat yang menyebabkan cabai terasa pedas dapat membantu meringankan nyeri sendi dan otot.
Ada keterangan bahwa bawang putih tidak hanya menyedapkan masakan, tetapi  juga sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan tubuh karena manfaatnya bermacam-macam. Saat Situtena menyampaikan pengetahuannya di grup WA tentang bawang, Yatica menyela.
“Bermacam-macam manfaat itu apa saja, ya?” tanya Yatica.
“Coba saya buka HP nanti, dan kirim ke mama, ya.” Situtena sering memanggil isterinya dengan sebutan mama, bukan Yatica. Yaah, tradisi di keluarganya seperti tu.
“Saya ambilkankan HP-nya, Yang… tidak dibawa ke dapur, ya. Tadi saya lihat di meja pendek di depan TV,” sahut Yatica.
Yatica mengambilkan HP suaminya lalu memberikannya agar ia tidak menunda untuk memberi tahu manfaat bawang putih dengan informasi yang makin lengkap.
Setelah membuka HP, Situtena menyampaikan bahwa manfaat bawang putih banyak sekali, di antaranya adalah menyehatkan jantung, mengendalikan tekanan darah, menurunkan kolesterol, memperkuat tulang, dan masih banyak lagi. Hmm, berarti nenek moyang kita telah sukses meramu penyegar makanan yang lezat dan berkhasiat menyehatkan badan dari proses pengalaman berabad-abad.

“Kalau manfaat garam untuk apa ya, Yang?” tanya nenek Yatica.

“Pasti ada manfaatnya karena nenek moyang tentu tidak sembarang memilih kombinasi bumbu sambal yang manfaatnya bermacam-macam. Kita bisa meminta tolong cucu kita, Aleita, untuk menjelaskan manfaat tersebut. Ia bisa mencari jawaban-jawaban ilmiah yang sekarang tersedia di banyak sumber belajar,” jawab kakek Situtena.

Yatica memikirkan sesuatu, yaitu alangkah baiknya apabila pemahaman tentang manfaat lauk-pauk makanan ciptaan nenek moyang yang sekarang disebut sebagai bagian dari makanan tradisional dapat disebarluaskan. Ternyata, banyak makanan tradisional yang memiliki kandungan gizi baik dan berkhasiat sebagai obat.

Tidak salah juga jika menyimpulkan bahwa proses menjadi sehat untuk penduduk desa dapat ditingkatkan mutunya dengan melakukan hal-hal sederhana, yaitu memilih makanan sehari-hari yang menyehatkan dari bahan-bahan yang tersedia di daerah lokal. Terasa ada tantangan untuk generasi Z Indonesia saat ini agar tidak salah rasa dan salah gengsi, dilatih untuk menghindari makanan cepat saji (fast food) yang boros uang dan tidak baik bagi kesehatan.

Para pemimpin perdesaan, termasuk kepala desa yang menjadi pemimpin formal maupun guru-guru dan para ulama sebagai pemimpin informal, dapat memberi contoh kebiasaan makan dengan cara-cara yang menyehatkan yang nenek moyang dahulu gunakan. Kemasan baru agar sesuai dengan selera anak-anak masa kini dapat dibuat dan tidak sulit mengerjakannya.

Selain menyehatkan, perlu dicari gaya hidup konsumsi makanan peninggalan nenek moyang yang sekaligus menyuburkan rasa bangga (sense of pride) atas cerdasnya nenek moyang dalam menemukan makanan-makanan lezat berkhasiat.

Begitulah cerita yang bisa didapat dari pandangan dan pendengaran atas kejadian akhir pekan lalu di rumah Kakek Situtena. 

Sebenarnya, cucunya, si Aleita yang baru saja lulus SMA termasuk salah satu anak generasi Z yang juga senang makan dengan penyegar rasa yang dikenal dengan nama sambal bawang.


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun

Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun


Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru