close

Media Sosial dan Fenomena Kehidupan Berbahasa

Media Sosial dan Fenomena Kehidupan Berbahasa

BERNAS.ID - Perkembangan zaman pada industri 4.0 seperti yang kita ketahui telah merubah tatanan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Perubahan tersebut jelas terlihat pada bidang transportasi, komunikasi dan informasi, kesehatan, dan bidang-bidang lainnya.

Pada bidang komunikasi dan informasi, penggunaan bermacam-macam gawai seperti smartphone dan mesin pencarian seperti Google merupakan bukti nyata dari perkembangan zaman.

Dewasa ini, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi candu bagi para penggunanya. Seperti yang kita tahu, masyarakat pada era industri 4.0 tidak mampu terlepas dari gawainya, dimanapun kapanpun dan dalam kondisi apapun orang-orang dengan senantiasa menatap layar. Bisa dibilang gawai seperti smartphone telah menjadi belahan jiwa dalam kehidupan masyarakat.

Media sosial merupakan teknologi bermedia komputer, smartphone, dan gawai yang memfasilitasi pembuatan informasi dan membagi informasi, ide, minat, dan bentuk ekspresi lain melalui komunitas virtual atau jaringan. Terdapat berbagai macam bentuk media sosial yang dapat kita lihat melalui jenis layanan yang diberikan yaitu untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan bermultimedia.

Dewasa ini, perkembangan media sosial kian menjamur di kalangan masyarakat tanpa pandang bulu. Timbul stigma pada orang-orang tahun 2010-an yang menganggap media sosial diperuntukkan pada kawula muda namun, stigma tersebut kini dipatahkan dengan banyaknya orang dari berbagai usia bahkan anak-anak usia dini telah memiliki akun media sosialnya sendiri. Melihat fenomena ini, kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi lambat laun akan memunculkan perubahan sosial di dalam masyarakat.

Salah satu fenomena yang terjadi adalah penggunaan bahasa. Bahasa sebagai alat untuk komunikasi antar individu yang mencakup tindak tutur, tulisan, gerakan dan lain-lain.

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Timbulnya sebuah makna dalam lambang bunyi didasarkan pada kesepakatan sekelompok masyarakat yang menggunakannya. Sebagai contoh lambang bunyi “padi” yang melambangkan sesuatu yang mengahsilkan beras, biasanya tumbuh di sawah.

Seperti yang kita tahu bahasa senantiasa mengalami perkembangan karena berbagai macam faktor salah satunya karena kemunculan lambang bunyi baru.

Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan

SEDAYU, KABUPATEN BANTUL, DI YOGYAKARTA

Rp.258,000,000

Kemunculan lambang bunyi baru identik dengan kesepakatan masyarakat mengenai maksud dan fungsi dari lambang bunyi tersebut. Sebagai contoh adalah munculnya bahasa slang (bahasa gaul) dalam sebuah komunitas. Bahasa slang tersebut biasanya menandakan identitas dari sebuah komunitas.

Sebagai contoh munculnya kata “GG” atau good game yang menandakan kesenangan bermain pada sebuah game mobile pada komunitas game Mobile Legends. Penggunaan bahasa slang hanya bisa dimengerti oleh masyarakat dalam komunitas yang sama. Apabila seseorang dari komunitas game menggunakan bahasa slang mereka di dalam komunitas kajian islami maka orang dalam komunitas kajian islami tidak akan memahami maksud dari pembicaraan mereka. Begitupun sebaliknya.

Menanggapi fenomena tersebut, kemunculan lambang bunyi baru tidak akan menimbulkan masalah dalam sebuah komunitas malahan akan menimbulkan dampak positif, yaitu menambah keakraban. Namun, penggunaan bahasa slang tentu hanya bisa dipakai dalam komunitas yang sama. Apabila hal tersebut dilakukan akan menimbulkan sebuah kesalahpahaman terutama ketika interaksi seseorang di dalam dunia maya maupun dunia nyata.

Pemilihan kata dalam berinteraksi haruslah disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan lokasi. Mengingat fenomena media sosial yang kian menjamur, penggunaan bahasa kadang tidak dipilah dan dipilih sebagaimana mestinya.

Jika di media sosial penggunaan nada dalam berkomunikasi tidak begitu terlihat kecuali diberikan lambang tertentu. Namun, bagaimana jika pemilihan bahasa dalam bermedia diaplikasikan kepada kehidupan nyata. Sebagai contoh ketika seorang pelajar atau mahasiswa di instansi tempatnya belajar sedang melaksanakan prsentasi, seringkali terlihat pelajar menyisipkan kata tertentu seperti hits, kepo, mantul, dan sebagainya.

Maksud hati menggunakan kata tersebut untuk membuat pemaparan menjadi lebih komunikatif namun, penggunaan tersebut kurang sesuai apabila diaplikasikan pada suatu kegiatan yang bersifat serius dan dinilai kurang sopan.

Untuk itu, fenomena kehidupan berbahasa perlu diceramti terutama dengan menjamurnya media sosial sebagai sarana berkomunikasi dan berbagi informasi. Kebijaksanaan dalam penggunaan bahasa perlu diperhatikan dengan melihat situasi, kodisi, dan lokasi agar tidak terjadi kesalahpahaman dan menciptakan kesesuaian dalam berinteraksi.


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR


Kavling 100 M2 hanya Rp 60 Juta sudah SHM dan GRATIS Pondasi

Kavling 100 M2 hanya Rp 60 Juta sudah SHM dan GRATIS Pondasi


Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan

Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan


Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru