Alexa Certify
close
  • Bernas.id

Dirumahkan, Pekerja Trans Jogja Sepakat ke Pengadilan

Dirumahkan, Pekerja Trans Jogja Sepakat ke Pengadilan

YOGYAKARTA, BERNAS.ID - Puluhan pekerja PT Jogja Tugu Trans (JTT) memilih menyelesaikan persoalan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) karena merasa dirumahkan secara sepihak oleh perusahaan pada akhir Juli lalu. Pilihan ke jalur hukum karena tidak menemukan kesepakatan antara kedua pihak saat mediasi.

Perselisihan ini dimulai ketika sekitar 72 pekerja PT JTT yang terdiri dari sopir dan pramugara/i (kondektur)  mendapat panggilan terkait dengan pengurangan karyawan akibat terdampak pandemi Covid-19. 

Riyatna (51), salah seorang pekerja PT JTT mengatakan alasan ke PHI karena ingin menegakkan aturan yang ada saja. "Kami terus terang akan mencari keadilan di PHI. Bukan karena sentimen dengan perusahaan tapi ingin menegakkan aturan yang ada," jelasnya saat audiensi dengan PBHI Yogyakarta, Jumat (17/10/2020).

Riyatna menyebut para pekerja pernah diberikan tiga opsi operator layanan bus Trans Jogja ini. Pertama, menerima dan menandatangani keputusan manajemen untuk dirumahkan sampai Januari 2022 tanpa gaji, kedua, tidak menerima, dan ketiga, mengundurkan diri dengan kompensasi senilai 15 persen pesangon atau tidak menerima dan menyelesaikan perselisihan tersebut ke upaya bipartit.

Ia menyebut sebanyak 52 karyawan setuju dengan dua opsi pertama yang ditawarkan, sementara 20 lainnya telah melakukan langkah-langkah penyelesaian berupa upaya bipartit, tapi tak menemui titik terang. Alasannya, mereka menginginkan pihak perusahaan tetap membayarkan hak pekerja meskipun dirumahkan. 

"Kami tidak jelas posisinya di situ dan merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Tiba-tiba diundang soal pengurangan pekerja. Kami merasa tidak ada kesalahan sehingga kami pilih opsi yang ketiga," imbuh Riyatna.

Riyatna juga mengungkapkan, dalam sejumlah perundingan, para pekerja hanya minta 50 persen jumlah pesangon dari PT JTT sesuai dengan masa kerja. Namun perusahan menawarkan jumlah pesangon senilai 40 persen. "Sebagian besar pekerja yang dirumahkan rata-rata sudah bekerja selama 12 tahun. Ada juga beberapa yang masuk 2014 dan segelintir yang 2015. Menurut kami hal ini diskriminatif, padahal belum lama ini perusahaan juga melakukan perekrutan karyawan baru," ujarnya. 

Sedangkan, Perwakilan PBHI Yogyakarta, Arsiko Daniwidho mengatakan, PT JTT tidak memberikan hak dan akses untuk bekerja kepada pekerja yang dirumahkan terkait pertanyaan, apa indikator perusahaan dalam mengambil keputusan itu. Arsiko menyebut langkah perusahaan itu dianggap sepihak dan diskriminatif. "Jadi tetap akan kami dampingi ke jalur PHI karena pekerja memilih opsi yang ketiga," katanya.

Sementara itu, PT Jogja Tugu Trans (JTT) mengaku telah melakukan pertimbangan yang matang terkait dengan kebijakan perumahan karyawan akibat pandemi Covid-19.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PT JTT, Agus Andrianto mengatakan pertimbangannya untuk merumahkan karyawan memiliki dasar yang jelas. "Itu kan manajemen yang atur, ada indikator dan ketentuannya. Kalau memaksakan kehendak pribadi dan pendapat semua, tentu seluruh karyawan akan berpendapat mereka yang terbaik dan tidak pantas dirumahkan," jelasnya. 

Agus menyatakan, kebijakan merumahkan karyawan dilakukan karena dampak pandemi Covid-19. Akibatnya, sejumlah armada dan rute Trans Jogja tidak beroperasi normal karena dipangkas akibat minimnya jumlah penumpang. 

"Kami melakukan itu karena atas perintah Pemda jadi selama ini by the service kan dibayar. Karena tidak lagi sesuai bebannya maka pilihannnya mengurangi operasional dari bus Trans Jogja, otomatis pekerja kan juga dikurangi," kata Agus. 

Hal itu menurut dia merupakan pilihan yang rasional. "Yang jelas dari sejumlah karyawan yang dirumahkan itu, yang 20 ini mereka tidak bersabar. Kalau perlahan-lahan operasional bus sudah mulai kembali kan mereka pasti dipanggil lagi untuk bekerja," katanya. (jat)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Rumah Minimalis Mewah Diskon 20 Juta di Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di Jogja

Rumah Minimalis Mewah Diskon 20 Juta di Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di Jogja


Lebih Lengkap

Trending

Melek Literasi Keuangan Pasar Modal melalui Pengenalan Capital Market

Melek Literasi Keuangan Pasar Modal melalui Pengenalan Capital Market


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Rumah Minimalis Mewah Diskon 20 Juta di Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di Jogja

Rumah Minimalis Mewah Diskon 20 Juta di Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di Jogja


Investasi Tanah Terbaik di Jonggol Rp 60 Juta Bisa Diangsur 12 Kali

Investasi Tanah Terbaik di Jonggol Rp 60 Juta Bisa Diangsur 12 Kali


Tanah Kavling 100 m2 Murah di Bogor Hanya 60 Juta Gratis Pondasi

Tanah Kavling 100 m2 Murah di Bogor Hanya 60 Juta Gratis Pondasi


Rumah di Jogja Murah Angsuran Cukup 1 Jutaan

Rumah di Jogja Murah Angsuran Cukup 1 Jutaan


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru