close

Tragedi Penari Jathilan

Tragedi Penari Jathilan

WIRADESA - Tugimin sekarat, sementara istrinya masih berjuang melahirkan anak mereka. Puskesmas Suka Esih mendadak dipenuhi orang-orang yang tadi mengantar pasangan suami istri itu ke ambang pintu UGD. Namun, Sulastri langsung dilarikan ke bangsal khusus melahirkan.

Kata dokter, pecahan-pecahan beling yang dimakan Tugimin saat ia kesurupan tadi, masih tersangkut di tenggorokan dan juga lambung, lalu melukai setiap organ dalam tubuhnya. Meskipun ada pilihan untuk melakukan operasi, tetapi hal itu akan terasa sia-sia ketika seluruh organ dalamnya telah tersayat oleh pecahan-pecahan beling. Sedangkan, Sulastri masih tak sadarkan diri karena mengalami perdarahan hebat.

Kekacauan itu terjadi saat jin yang memasuki tubuh Tugimin mendadak dikeluarkan oleh Mbah Mijan, seorang dukun yang biasa mengobati para penari Jathilan. Padahal, Tugimin masih asyik memakan pecahan beling dan bebungaan. Bersama dengan itu, rasa kebal dalam tubuhnya pun ikut menghilang. Sebelumnya, Sulastri sudah melarang suaminya untuk ikut menari Jathilan karena sebentar lagi anak pertama mereka akan lahir. Ia sudah mempunyai firasat buruk terhadap suaminya.

Namun, Tugimin justru berikeras bahwa ini adalah pertunjukan terakhirnya sebelum menjadi seorang ayah. Ia juga berjanji pada Sulastri untuk mencari pekerjaan baru setelah mereka memiliki anak. Namun, Jathilan memang tak seru jika tidak ada penari yang kesurupan dan mulai meminta hal-hal aneh. Saat salah satu penari mulai kesurupan, hal itu akan cepat menular pada para penari lain yang hanya terjadi jika mereka saling bersentuhan.

Saat salah satu penari mulai kesurupan, ia akan kehilangan kendali pada dirinya sendiri. Jadi, meskipun Tugimin bukanlah orang yang pertama kesurupan, tetapi ia tertular oleh temannya. Menurut Mbah Mijan, hal tersebut adalah sesuatu yang lumrah saja terjadi karena setiap jaran kepang dan busana yang dikenakan para penari Jathilan telah lebih dulu diberi sesaji dan dimandikan dengan mengucap mantra-mantra. Jadi, wajar saja jika para jin itu ikut menyaksikan penampilan para penari dan mungkin tertarik untuk memasuki tubuh mereka.

Dalam tradisi masyarakat Kali Gedhe, penari Jathilan yang kesurupan di tengah-tengah tariannya sebenarnya sudah sering terjadi dalam berbagai pementasan. Namun, mereka yang diobati Mbah Mijan biasanya langsung sembuh dan tak sampai harus dibawa ke puskesmas karena terluka parah. Namun, mungkin kali ini Tugimin memang sedang sial.

Sulastri, yang saat itu melihat orang-orang menggotong tubuh suaminya dari tengah lapangan pementasan, sontak kaget dan ingin berlari menyusul. Namun, tiba-tiba saja ia mengalami perdarahan hebat yang menyebabkan dirinya terduduk di pinggir lapangan.

Akhirnya, pasangan suami istri itu dilarikan ke Puskesmas Suka Esih, Desa Kali Gedhe secara bersamaan. Para warga yang tadi menonton pertunjukan Jathilan ramai-ramai mengantar mereka. Beberapa orang yang menggotong tubuh Tugimin adalah para penabuh gamelan yang masih mengenakan iket di kepala mereka dan juga jarit srimpi di pinggang. Sementara itu, Sulastri digotong oleh para penonton Jathilan yang langsung sigap saat perempuan itu hampir tidak sadarkan diri.

Tugimin dan Sulastri bisa dibilang pasangan suami istri yang sedang hangat-hangatnya. Mereka juga seharusnya sedang di puncak kebahagiaan sekaligus kekhawatiran karena akan menyambut kehadiran buah hati mereka yang pertama. Namun, ternyata takdir berkata lain.

Tugimin hampir meregang nyawa, sementara Sulastri tiba-tiba saja sadarkan diri dan merasakan kontraksi yang sangat hebat dari dalam perutnya. Dalam keadaan seperti itu, mereka bahkan tidak sempat menyampaikan salam perpisahan antara satu sama lain.

Mbah Mijan terus berkomat-kamit di luar ruang UGD sementara para penabuh gamelan dan para warga yang tadi mengantar juga masih ada di sana. Kebanyakan dari mereka mungkin penasaran apa yang akan terjadi pada pasangan suami istri itu nantinya. Meskipun, beberapa di antara mereka juga sudah banyak yang pulang.

Saat dokter yang menangani Tugimin keluar dari ruang UGD, kepalanya tertunduk lesu seolah tidak berani menatap wajah orang-orang yang masih setia menunggu. Saat salah seorang penabuh gamelan bertanya padanya, dokter itu menggelengkan kepala pertanda menyerah.

“Maaf, saya dan tim sudah berusaha semampu kami. Namun, kita semua kehilangan bapak Tugimin,” ucap dokter itu sambil mengusap wajahnya lalu permisi untuk kembali ke dalam.

Semua orang mengucapkan kalimat istirja’ hampir bersamaan, kecuali Mbah Mijan yang masih terus berkomat-kamit.

Rumah Jogja Murah DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun

SEDAYU, KABUPATEN BANTUL, DI YOGYAKARTA

Rp.258,000,000

“Dasar biadab! Berani-beraninya dia melawanku!” seru Mbah Mijan yang menghentikan bacaan mantranya dan menerobos masuk ke ruang UGD.

Beberapa orang menahan langkah orang tua itu, tetapi kekuatannya bahkan tak tertandingi oleh tiga orang laki-laki dewasa. Mbah Mijan tetap masuk ke ruang UGD dan segera menuju ke tempat Tugimin berada. Seluruh tubuhnya telah ditutupi kain putih. Para perawat bersiap memindahkan jasad itu ke kamar mayat, tetapi Mbah Mijan menahan mereka untuk melakukannya.

“Keluar dulu kau sialan! Jangan bawa Gimin bersamamu!”

Mbah Mijan membuka kain putih yang menutupi wajah Tugimin, lalu menampar-nampar pipinya. Para perawat yang berusaha menghalagi perbuatan Mbah Mijan tersebut kewalahan dan hampir menyerah menghentikannya.

Beberapa menit kemudian, Mbah Mijan melempar kain putih itu lagi ke wajah Tugimin yang telah memucat. Ia pn pergi meninggalkan ruang UGD dengan tampang yang masih kesal.

Sementara itu, di ruangan lain Sulastri sedang berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan anaknya. Ia belum tahu kalau suaminya itu meninggal dunia karena banyak mengonsumsi pecahan beling yang melukai organ dalam tubuhnya. Namun, para suster yang kebetulan merawat Sulastri berkasak kusuk tentang kabar kematian yang cepat menyebar.

“Katanya matinya mengenaskan, lho. Banyak sekali beling dalam tubuhnya. Sekalipun di operasi, dia tetap tidak bisa bertahan dengan organ tubuh yang sudah banyak tersayat-sayat itu.”

“Nah, iya! Kok bisa, ya? Padahal tetangga saya yang suka main Jathilan itu nggak pernah sampai kayak gitu, lho!”

“Ya. Ndak taulah. Mungkin memang dianya aja yang lagi ndak mujur.”

Sayup-sayup Sulastri mendengar pembicaraan itu. Pikirannya langsung tertuju pada Tugimin, suaminya yang tadi digotong oleh para warga setelah memakan banyak beling. Ia menangis karena sekarang tak bisa melihat keadaan suaminya itu. Padahal, sebelumnya Sulastri dan Tugimin sudah berjanji untuk membeli perlengkapan bayi selepas pertunjukan Jathilan selesai.

Alasan kenapa Sulastri mengizinkan suaminya itu menari lagi, adalah karena mereka memegang janji itu. Namun, semua itu kini hanya tertinggal dalam kenangannya saja.

“Suster! Sepertinya saya mau melahirkan sekarang!” teriak Sulastri sekuat tenaga.

Tiba-tiba saja ia merasakan perutnya mengalami kontraksi hebat. Namun, perdarahan kembali terjadi. Dokter dan para perawat sudah berusaha semampu mereka. Memang Sulastri berhasil melahirkan secara normal. Akan tetapi, begitu lahir anak itu langsung menjadi yatim piatu.

 


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR


Lebih Lengkap

Trending

Sales Course yang Jamin 99 Persen Penjualan

Sales Course yang Jamin 99 Persen Penjualan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR


Kavling 100 M2 hanya Rp 60 Juta sudah SHM dan GRATIS Pondasi

Kavling 100 M2 hanya Rp 60 Juta sudah SHM dan GRATIS Pondasi


Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan

Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan


Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru