Bagian Satu - Laki-laki Itu Bernama Landung

Bernas.id - Hidup saya mendadak hancur sejak bisnis ayah saya bangkrut karena perempuan. Namun perempuan itu justru lari dengan pacar barunya. Ayah mati gantung diri, ibu menyusul jadi gila. Malangnya, saya anak tunggal satu-satunya. Tak ada keluarga, sanak saudara, juga para kolega ayah yang sudi membantu. Setengah mati saya berusaha menerima, tapi tidak bisa juga. Akhirnya saya nekat meninggalkan ibu sendirian, lalu memulai hidup baru di jalanan.

Sekian lama saya mencoba terus berjalan tanpa tujuan, tanpa memedulikan apa-apa. Sekian lama pula saya mencoba bertahan hidup di jalanan dengan cara melihat orang-orang jalanan lainnya. Sampai pada akhirnya, tibalah saya di kota C. Padahal, saya belum pernah ke kota C. Tidak punya apa-apa, dan tidak punya siapa-siapa.

Lelah sekali terus berjalan dan meminta-minta. Beruntung, saya menemukan tempat pembuangan sampah tak jauh dari tempat saya berdiri. Saat berjalan mendekat dan mulai berjongkok pada tumpukan-tumpukan sampah itu, saya berharap bisa menemukan sisa makanan di sana. Namun, seseorang seperti memanggil-manggil saya dari jauh.

“Hoi dek! Ngapain? Hoi!”

Saya menoleh. Seorang lelaki dewasa dengan tampang sangar melambai-lambaikan tangannya, mengisyaratkan kepada saya agar mendekat. Sebelumnya, saya sudah sering menemui orang-orang seperti dia. Akhirnya saya menurut saja daripada dia mengamuk dan saya jadi pelampiasan. Setelah jarak kami cukup dekat, dia malah menyodorkan sebungkus roti pada saya. Aneh. Padahal, tampangnya menyeramkan. Akan tetapi, dia tidak mengganggu saya. Sebaliknya, dia menyelamatkan saya dari kelaparan.

Akhirnya kami berkenalan. Saat saya menjabat tangannya, terasa kontras sekali dengan tangan saya yang kecil dan gemetaran. Tangan lelaki sangar itu besar, hitam, dan kasar. Nyali saya menciut.

“Landung. Lo anak baru di sini, ya?” tanyanya dengan suara yang tak kalah sangar dengan penampilannya.

Kemudian, tatapan saya berpindah ke wajahnya. Banyak sekali codet di sana. Sorot matanya tajam, hidungnya bangir, di bawahnya tumbuh kumis dan cambang yang lebat, dan rambutnya gondrong sedikit bergelombang. Saya masih melongo melihatnya. Sampai akhirnya saya lihat sendiri dia tersenyum. Setelah itu, saya menelan ludah.

“Kenapa? Lo takut sama gue?” tanyanya lagi, kali ini hampir disertai tawa.

Selain menyeramkan, ternyata dia juga bisa membaca pikiran.

“Ah, i-iya, Bang. M-maaf. N-nama saya Mutammim. Panggil aja Muta atau Tammim,” jawab saya kaku. Dia lantas melepas jabat tangan kami.

“Siapa? Amin? Tami? Ah, susah amat nama lo! Ngomong-ngomong, di mana rumah lo?”

Bang Landung terlihat kesal mengucapkan nama saya. Namun, ia melontarkan pertanyaan lagi.

“Ee.. saya, saya nggak punya rumah, Bang,” jawab saya jujur.

“Hmm ... Kalo gitu, mau ikut gue nggak?” tawarnya yang langsung membuat saya terkejut. Jangan-jangan, sebenarnya dia ini penculik? Ah, tapi buat apa juga menculik anak miskin macam saya?

“Kemana?” tanya saya sambil mencoba berpikir positif.

“Habisin dulu rotinya!” suruhnya. Ternyata, dari tadi ia terus memperhatikan saya.

Kami duduk bersisian di samping rumah kardus dekat tempat pembuangan sampah itu. Tidak ada dari kami yang berbicara lagi. Saya fokus menghabiskan roti, sementara dia justru mengambil permen lolipop dari saku celananya.

“Mau?” tawarnya sambil menyodorkan permen itu ke pada saya. Akan tetapi, karena roti saya belum habis, saya pun menggeleng. Setelahnya, Bang Landung memakan sendiri lolipop itu.

Pada detik berikutnya, otak saya dipenuhi rasa penasaran yang mencekam. Siapa orang ini sebenarnya?

Setelah roti saya habis, Bang Landung lantas membawa saya ke semacam rumah panggung dari kayu. Saat nampak luar, rumah itu terlihat seperti rumah-rumah lainnya di kawasan itu. Namun, saat masuk ke dalam, ternyata ada tujuh anak dengan seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun yang sedang bermain banyak mainan. Ketika melihat saya datang, mereka menyambut saya dengan ramah, lalu mulai berkenalan dengan mereka.

“Selamat menjadi bagian dari Rumah Pelangi!” seru Bang Landung yang langsung diikuti tepuk tangan dari semuanya.

Bagi mereka, saya adalah keluarga baru. Apa memang semudah ini mendapatkan sebuah keluarga? Entahlah. Namun, saya juga merasa senang bertemu dengan mereka. Semoga saja, laki-laki bernama Landung itu memang sebenarnya adalah orang baik.

Bangunan yang disebut Rumah Pelangi ini masih tergolong semi permanen. Dinding dan lantainya terbuat dari kayu layaknya rumah panggung. Sementara itu, atapnya terbuat dari seng. Tidak terlalu besar, dan tidak pula terlalu kecil. Setidaknya cukup sebagai tempat kami berteduh.

Saya diajak berkeliling ke Rumah Pelangi oleh keluarga baru saya itu. Akan tetapi, Bang Landung tidak ikut, karena katanya ingin pergi mengunjungi seseorang. Ternyata, Rumah Pelangi hanya terdiri dari dua ruangan saja. Ruangan pertama adalah ruang tamu merangkap kamar tidur beralaskan tikar usang yang tergelar di lantai. Tidak ada perabotan rumah tangga biasanya seperti meja atau kursi, bahkan jam dinding. Hanya ada satu lemari plastik berukuran sedang di pojok ruangan. Anak-anak Rumah Pelangi biasa menyimpan pakaian bersih di sana.

“Tapi, saya cuma punya ini,” ucap saya menunjuk kaos oblong dan celana levis belel yang saya pakai.

“Tenang, kita bisa ganti-gantian nanti,” ucap anak berambut botak. Benar juga, pikir saya.

Kemudian kami beranjak ke ruangan yang satu lagi. Berbeda sekali dengan ruangan pertama. Ruang kedua ini adalah tempat khusus untuk belajar. Dindingnya penuh oleh tempelan gambar, tulisan, dan foto-foto yang saya yakin itu buatan anak-anak Rumah Pelangi.

Akhirnya, mereka pun gantian bercerita. Setiap Rabu, Kamis, dan Jum’at akan ada teman-teman Bang Landung yang datang untuk mengisi kelas. Ada Bang Idoy sang guru menggambar, Kang Ujang yang mengajarkan baca tulis, juga Ustadz Sofyan yang mengajar mengaji.

“Kalian belajar mengaji juga?” tanya saya penasaran.

“Ya, setiap sehabis Jum’at kami mengaji bersama Ustadz Sofyan.”

“Kami juga belajar gerakan salat!”

“Di lemari itu juga tersimpan peralatan salat kami, juga buku Iqra’ dan kitab suci Al-Qur’an.”

Teman-teman baru saya itu saling menjawab bersahut-sahutan dan sangat antusias. Sementara itu, saya malah bingung dibuatnya. Sebenarnya Rumah Pelangi itu apa? Siapa yang merancang kurikulum untuk Rumah Pelangi?

“Ceritanya panjang.”

Bagai membaca pikiran saya, Dodit yang katanya adalah anak tertua dan terlama di Rumah Pelangi, mulai bercerita. Ia menceritakan kejadian awal pertemuannya dengan Bang Landung. Semula, kehidupan keluarga Dodit terlampau kelam untuk anak seusianya. Saat itu, usianya sekitar sepuluh. Sama seperti saya, dulu Dodit juga ditemukan Bang Landung di jalanan. Orangtuanya yang miskin menyuruhnya bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Mereka berdalih karena sudah tua, lantas tak mampu lagi mencari uang. Padahal, bapaknya bahkan masih kuat merokok sampai dua bungkus sehari.

Meskipun masih sangat muda, Dodit sudah pandai mencari uang dari memulung, berjualan koran, berjualan mainan, dan apa saja yang bisa dijual. Siang hari ia berjualan keliling kota dan jalan-jalan, lalu malam hari digunakannya untuk memulung. Begitu terus sampai suatu ketika uang yang Dodit kumpulkan setelah seharian bekerja, dijambret preman begitu saja.

Otomatis Dodit pulang dengan tangan kosong. Namun, orangtuanya tidak mau menerima alasan itu. Akhirnya Dodit pun diusir dari rumah karena dianggap tidak becus mencari uang. Dia menangis tersedu-sedu di trotoar jalan, sampai akhirnya laki-laki berambut gondrong bertemu dengannya.

“Itu kali pertama aku bertemu Bang Landung. Mungkin tampangnya memang sangar, tapi hatinya hello kitty.”

Mendengar itu, kami pun tertawa. Setelah pertemuannya dengan Bang Landung, Dodit pun dibawa ke Rumah Pelangi. Awalnya, baru dirinya seorang yang bersama Bang Landung saat itu. Bangunan Rumah Pelangi juga belum seperti sekarang. Belum ada sekat yang memisahkan rumah ini menjadi dua bagian. Hanya ada satu ruang tanpa perabot yang terasa begitu luas.

“Tadinya, kupikir Bang Landung mau nyulik aku. Tapi ternyata nggak. Dia justru ngasih kehidupan yang lebih baik daripada sebelumnya.”

Setelah mengatakan itu, mata Dodit berkaca-kaca. Dia mengingat ulang cerita Bang Landung dulu. Tentang mimpinya untuk Rumah Pelangi yang ia dirikan, pertemuannya dengan orang-orang hebat yang kelak menjadi teman sekaligus gurunya, juga tentang makna hidup yang selama ini dia cari.

“Lalu kenapa Bang Landung mendirikan Rumah Pelangi?” tanya saya makin penasaran.

“Penebusan dosa. Itu yang pernah dikatakannya.”

Dodit pun kembali meneruskan ceritanya.

 

Bersambung ...

 

(Risma Ariesta)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul

Rumah Cantik 300 Jutaan - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Cantik di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Pertumbuhan Ekonomi Baru dan Jalur Bandara NYIA

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up