close

Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Experiential Tourism

Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Experiential Tourism

BERNAS.id - Experiential Tourism adalah turunan dari Experiential Learning yang secara spesifik menggunakan wisata sebagai pengalaman untuk dihayati dan dimaknai oleh diri wisatawan. Experiential Tourism menjanjikan pengalaman yang ‘transformative’ bagi diri wisatawan. Tidak hanya sekedar berwisata, tapi memberikan dampak dalam perkembangan personal wisatawan dengan menghayati pengalaman dari perjalanan wisatanya.

Menurut Nature And Outdoor Tourism Ontario (NOTO), beberapa bentuk turunan Experiential Tourism antara lain; Heritage Tourism, Eco Tourism, Educational Travel & Experimental Travel. Presiden Adventure Travel Trade Association (ATTA), Shannon Stowell bahkan menyatakan bahwa tren Adventure Tourism yang semakin meningkat harus membuat Provider Wisata Petualangan harus mampu menjadikan paket wisatanya lebih “experiential’ dengan cara memberikan pengalaman petualangan yang lebih ‘transformative’ bagi diri wisatawan.

Secara sederhana bentuk dari Experiential Tourism dapat terdiri dari, wisata budaya, wisata komunitas, wisata petualangan, studi wisata, perjalanan insentif (incentive travel), wisata museum, wisata petualangan, wisata desa dan wisata minat khusus lainnya. Pada dasarnya istilah Experiential Tourism dapat dipadankan dengan Wisata Minat Khusus di Indonesia. Namun yang sangat disayangkan, pengembangan Wisata Minat Khusus di Indonesia kurang memperhatikan unsur ‘Experiential’ dalam pengemasannya.

Wisata Minat Khusus yang tidak Experiential

Kesalahan umum yang sering terjadi dalam pengemasan Wisata Minat Khusus adalah kurangnya sentuhan penghayatan pengalaman. Dalam Experiential Tourism, wisatawan harus dibuat lebih menghayati dan menghargai pengalaman wisatanya sehingga mampu memberikan makna pembelajaran bagi wisatawan. Menyediakan tempat dengan segala situs dan atraksi yang syarat kearifaan lokal mungkin cukup untuk membuat sebuah destinasi Wisata Minat Khusus. Namun, tidak cukup untuk membuatnya menjadi Wisata Experiential.

Membuat dan membangun lokasi Wisata Minat Khusus tanpa ada sentuhan ‘Experiential’, hanya akan membuat tempat wisata tersebut menjadi atraksi Wisata Massal yang cepat kehilangan pesonanya. Seperti contoh adalah wisata Kota Tua di DKI Jakarta. Kota Tua yang dibangun kembali dengan harapan dapat menjadi destinasi Wisata Minat Khusus akhirnya berubah menjadi destinasi Wisata Massal saja.

Contoh yang lebih parah adalah terciptanya lokasi Wisata Minat Khusus yang nyatanya malah tidak memiliki kekhususan, seperti sebagian besar Desa Wisata di Indonesia. Program pembangunan Desa Wisata di seluruh Indonesia sebagai lokasi Wisata Minat Khusus yang sudah dicanangkan sejak tahun 2012 adalah contoh gagal pembuatan atraksi Wisata Minat Khusus karena tidak memperhatikan sentuhan Experiential dalam pembuatannya.

Pada tahun 2019 dilaporkan lebih dari 40% Desa Wisata di Gunung Kidul dan lebih dari 30% Desa Wisata di Jawa Tengah mati suri. Hal ini terjadi karena tidak ada keunikan yang khusus di tiap Desa Wisata tersebut. Kejadian yang sering ditemui adalah Desa Wisata yang berbondong-bondong membangun wahana outbound sehingga membuat semua Desa Wisata menawarkan atraksi yang sama dan serupa. Akhirnya, tidak ada yang spesial dr Desa Wisata tersebut. Kalah saing dengan Wahana Wisata Outbound Profesional. Akhirnya instalasi wahana outbound yang menghabiskan investasi tidak sedikit itupun terbengkalai.

Tren Experiential Tourism sejak tahun 2017

Istilah Experiential Tourism memang masih sangat jarang dipahami tidak hanya oleh wisatawan tapi juga oleh pelaku industri pariwisata di Indonesia. Padahal, menurut laporan Global Growth Agent tahun 2017, 60% wisatawan global ingin mendapatkan perjalanan wisata yang lebih menghargai ‘pengalaman’, tidak hanya sekedar datang dan melihat. Mereka ingin perjalanan wisatanya lebih ‘experiential’.

Perilaku wisatawan sudah berubah dan ingin ‘travel better’ dengan ikatan ‘pengalaman’ yang lebih dalam dan personal dengan lokasi, budaya dan orang-orang yang ditemui di tempat wisata (laporan Skift & Peak Adventure Travel Group). Wisatawan ingin pengalaman wisata yang lebih baik, lebih personal dan lebih emosional.

Sebenarnya Kemenparekraf sudah membaca sinyal ini. Menurut Kemenpar terjadi pergeseran orientasi wisata sejak tahun 2017, dari Wisata Massal menuju Wisata Alternatif atau Wisata Minat Khusus dengan pola wisata yang menekankan kepada aspek penghayatan dan penghargaan terhadap aspek lingkungan, budaya dan kelestarian alam. Namun sayangnya upaya untuk mengembangkan Wisata Experiential masih sangat minim dilakukan. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya pemahaman mengenai karakteristik Wisata Experiential.

(Kontributor: Gigih Gesang)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun

Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun


Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru