Bernas.id - Beberapa hari yang lalu, Dr. Rhorom Priyatikanto, peneliti Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) menjelaskan bahwa satelit Telkom-3 milik Telkom, sejak 30 Januari 2021, satelit itu sudah mencapai ketinggian <200 kilometer serta diperkirakan akan melakukan re-entry atau masuk kembali ke Bumi, pada 5 Februari 2021 antara pukul 14:30 WIB hingga pukul 18:30 WIB.

Ini merupakan pertama kalinya benda antariksa berukuran besar milik Indonesia jatuh ke bumi, setelah beberapa tahun berada di luar angkasa dan Satelit itu sempat dilaporkan hilang setelah gagal mengorbit. Hal ini juga menua komentar harapan "yang telah lama “hilang” akhirnya jatuh kembali ke Bumi. Semoga aman terkendali" tulis akun Twitter @basnugroho. 

Meski begitu, terdapat adanya ketidakpastian dalam prediksi waktu jatuh. Karena objek jatuh secara tidak terkendali, sehingga orientasi satelit dan hambatan udara yang dialaminya bisa bervariasi. Perkiraan terakhir menjelaskan satelit itu akan jatuh di sekitar Mongolia atau China bagian utara. Menanggapi hal itu, lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengaku sudah berkoordinasi dengan PT Telkom Indonesia, Tbk, Telkomsat, dan Roscosmos Rusia. Demikian menurut keterangan resmi LAPAN, Sabtu (6/2/2021). 

Fakta Mengenai Satelit Telkom-3

Satelit Telkom-3 adalah satelit milik PT. Telkom Indonesia yang dibuat oleh perusahaan penyedia satelit Rusia bernama ISS-Reshetnev dengan peralatan komunikasinya buatan Thales Aleniaspace. Satelit Telkom-3 merupakan satelit pertama buatan Rusia yang dibeli oleh Indonesia, yang diluncurkan pada tanggal 6 Agustus 2012 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, tetapi gagal mencapai orbit karena masalah teknis. Melansir Space Sky Rocket, satelit Telkom-3 dibangun berdasarkan platform satelit kelas menengah Ekspress-1000N. Satelit itu rencananya akan bertugas selama 15 tahun.

Satelit Telkom-3 dirancang untuk memenuhi permintaan transponder yang terus meningkat dalam pengembangan layanan bisnis satelit di Indonesia. Saat itu, Presiden Direktur Telkom, Rinaldi Firmansyah menyatakan satelit Telkom-3 tidak hanya untuk tujuan komersial dan peningkatan kualitas infrastruktur di Indonesia. Namun, dibangun juga untuk mendukung kerja militer dalam pertahanan dan keamanan. 

Satelit Telkom-3 memiliki kapasitas 42 transponder aktif, terdiri dari 24 transponder pada Standar C-band 36MHz, 8 transponder pada 54 MHz C-band, 4 transponder pada 36 MHz, dan 6 transponder pada 54 MHz Ku-Band. Bahkan, Telkom Group melaporkan sudah menginvestasikan dana sebanyak US$200 juta atau Rp2,8 triliun (kurs Rp14.0052) untuk proyek satelit Telkom-3. 

Alasan Kegagalan dalam Mengorbit

Satelit Telkom-3 dilaporkan gagal mengorbit setelah roket Proton-M milik pemerintah Rusia yang membawa satelit itu mengalami kendala teknis. Waktu itu, Proton-M juga membawa satelit lain, yakni Ekspress-MD2. Satelit Telkom-3 awalnya direncanakan mengrobit di orbit geostasioner dengan bobot 1.845 kg. Menurut LAPAN, satelit Telkom-3 mengitari Bumi setelah gagal mengorbit dengan orbit eksentrik, yakni dengan ketinggian maksimum (apogee) 5015 km dan ketinggian minimum (perigee) 267 km serta inklinasi 49,916 derajat. Sejak tanggal 6 Agustus 2012 pukul 23 UT, Satelit Telkom 3 tercatat dalam katalog NORAD dengan nomor identifikasi 38744 serta pada katalog COSPAR dengan nomor identifikasi 2012-044A.

Dampak yang Ditimbulkan

Menjawab pertanyaan masyarakat "Dampak nya apa ya kalau jatuh ke bumi?." tulis akun Twitter @nanditoholic. Jadi, kalau benda antariksa jatuh dan menimbulkan korban masyarakat, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk sebagai pemilik satelit wajib menutup kerugian yang ditimbulkan. Akan tetapi, risiko munculnya korban jiwa akibat jatuhnya sampah antariksa hanya 1 di antara 40.000 kejadian. Rendahnya risiko itu merupakan konsekuensi dari banyaknya wilayah di Bumi yang tidak dihuni manusia.

Dampak terbesar dari puing benda langit yang tidak terpakai dapat merusak lingkungan antariksa. Kemudian Sampah tersebut bisa menabrak satelit yang sedang aktif bahkan bisa menimbulkan kerusakan. Dapat disimpulkan semakin banyak perusahaan yang meluncurkan satelit, maka semakin banyak pula sampah yang ada di antariksa.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), merujuk pada aturan hak dan kewajiban Liability Convention terkait kerusakan akibat benda luar angkasa. Jika terjadi kerusakan karena benda jatuh dari antariksa, maka pemilik benda itu wajib memberikan kompensasi selain itu mereka juga wajib mendaftarkan benda antariksa miliknya ke Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui otoritas yang ada di negara tersebut. (mwe)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Lebih Lengkap

Trending

Sales Course yang Jamin 99 Persen Penjualan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 60 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Investasi Menguntungkan - Tanah Kavling Siap Terima SHM Cuma 60 Jutaan - 3 Km ke Pusat Bogor Timur

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up