close

Mahakarya Asia Ministerial Lecture 01 Soroti UMKM di Tengah Pandemi

Mahakarya Asia Ministerial Lecture 01 Soroti UMKM di Tengah Pandemi

SLEMAN, BERNAS.ID - Universitas Mahakarya Asia menyelenggarakan Ministerial Lecture Episode 01, sebuah konsep kuliah umum, satu menteri, setiap bulannya. Spirit yang diangkat, pembelajaran tidak saja dari para dosen, tetapi dari berbagai sumber yang berfokus pada pembelajar.

Tujuannya, kuliah umum via daring tersebut menjadi media kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi, industri dan pemerintah untuk menjadi sebuah ekosistem yang saling menguatkan.

Rektor Mahakarya Asia, Ferro Ferizka Aryananda mengatakan dalam sebuah industri, yang baru selalu membunuh yang lama. Bahkan, setiap perusahaan selalu mempunyai 3 masa, yaitu masa naik, masa puncak, dan masa turun.

"Kenapa perusahaan yang berada di puncak selalu menurun dan setelahnya menurun tidak bisa naik lagi karena kepemimpinan di industri tidak bertahan lama. "Yang baru selalu membunuh yang lama," ucapnya, Senin (22/2/2021). 

Ferro memaparkan data di dunia musik, misal piringan hitam berjaya di tahun 70an, lalu tahun 80an muncul kaset dan berjaya di tahun 90. "Lalu, muncul teknologi baru, CD dan DVD, kemudian di tahun 2005 sampai 2010 muncul teknologi streaming. Kita dulu kalau membeli kaset di Disc Tarra, tetapi karena musik pindah ke streaming, Disc Tarra mati," jelasnya.

"Di industri, selalu ada pemain baru. Untuk itu, tugas dari dunia bisnis dan UMKM harus selalu beradaptasi terhadap situasi, mengikuti zaman untuk bisa bertahan," imbuhnya.

Ia pun bercerita mulanya Kodak merupakan penemu kamera digital pertama, tapi Kodak itu perusahaan kimia yang memproduksi roll film. Kodak tak menyadari yang dibutuhkan orang saat ini, hasil fotonya langsung hingga akhirnya Kodak gagal bertranformasi. "Inovasi itu harus dan perlu. Kenapa inovasi gagal karena 82 persen, perusahaan menjalankan bisnisnya seperti biasa. Itulah yang menyebabkan inovasi itu harus dilakukan, tapi gagal dilakukan," bebernya. 

Ferro juga menyebut perusahaan besar itu mindsetnya sering berpikir ia tidak bisa dikalahkan, padahal yang menentukan itu market atau pasar. "Kalau ada produk dilempar diterima positif oleh pasar, kita harus ikuti. Kita jangan membiarkan ide-ide yang muncul tidak dieksekusi, sebab pemain baru selalu muncul di perkembangan teknologi. Ancaman itu selalu ada," ujarnya.

"Yang sulit itu, menemukan teknik baru untuk melompat lebih tinggi. Menemukan cara baru, itu yang susah," tambahnya.

Wirda Mansyur, Creativepreneur dan Founder Milenial Anti Bokek (MAB) mengatakan, kekagumannya bahwa fenomena saat ini, anak muda makin canggih dengan perkembangan teknologinya. Ia ternyata menemukan bahwa minat usaha pada anak-anak muda sekarang ini banyak.

"Kalau dulu yang ingin menjadi pengusaha, hanya untuk orang bermodal, modal uang. Atau yang berwirausaha orang yang sudah bekerja atau usia matang. Namun, saat ini, yang hebat, yang ingin punya usaha, justru anak muda yang tidak punya modal," tuturnya. 

Ia terkagum dengan inovasi dan ide-idenya serta kemauan anak muda saat ini meski tidak memiliki saat pengetahuan. Tiap-tiap orang itu beda ilmunya. "Kalau ingin membuat usaha, harus mempunyai goal atau tujuan. Yang akan ingin kita kejar apa karena akan menentukan sistem usahanya akan seperti apa nanti," katanya.

Ia pun berbagi saran bahwa pondasi dasar melakukan usaha, yaitu dengan menaklukkan ketakutan, misal takut rugi. "Kita harus banyak melakukan kegiatan trial dan error. Saat ini, kita bisa memanfaatkan media sosial status WA atau IG dan handphone untuk memulai usaha," terangnya.

Asisten Deputi Pengembangan SDM, Kementerian Koperasi dan UKM, Dwi Andriani Sulistyowati mengungkapkan UMKM telah terbukti ketangguhannya pada tahun1998, ketika krisis moneter melanda Indonesia, UMKM yang menopang ekonomi sehingga Indonesia masih tegak. Namun, ia menyebut di masa pandemi Covid-19, justru UMKM yang paling runtuh lebih dahulu.

Dari data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas), Dwi mengatakan lebih dari 80 persen, UMKM berkurang pesanan atau ordernya, 42 persen menghentikan sebagian pekerjanya, dan 46,5 sampai 52,3 persen mengurangi biaya utilitasnya seperti air, gas, listrik, dan komunikasi.

"Titik terendah UMKM ada di bulan April, 56,8 persen mengalami kondisi sangat buruk," imbuhnya.

Di masa pandemi ini, Dwi mengatakan ada 58 persen UMKM yang menjual produknya secara online dan UMKM inilah yang masih bertahan. "Lalu 80 persen  UMKM mengalihkan produknya ke alat kesehatan protokol kesehatan untuk bertahan," ucapnya.

Dwi memprediksi keadaan akan pulih normal 6 bulan-1 tahun ke depan, tapi masih belum ada kejelasan normalnya. "Untuk kebutuhan UMKM saat pandemi, 66,71 persen membutuhkan keuangan, 48,56 persen membutuhkan pendampingan konsultasi bisnis, dan 31,05 persen membutuhkan alat-alat  produksi," katanya.

Ia mengatakan Kementerian Koperasi dan UMKM  telah menentukan strategi arah kebijakan untuk mendukung ekosistem UMKM. "Proses digitalisasi UMKM untuk bisnis dan akses pasar sehingga membuka channel distribusi, seperti marketplace, lalu bisa memperluas local brand dan active space, serta internasionalisasi produk UMKM melalui standarisasi," tuturnya.

Lanjut tambahnya, untuk perluasan pasar UMKM, bersinergi dengan Pemerintah, misal penyerapan belanja barang Pemerintah dan BUMN dengan UMKM sebagai penyedia produknya. "Lalu, inkubator dalam peningkatan kualitas produk dan manajerial. Kemitraan dengan usaha besar dan dunia pendidikan PT yang menyelenggarakan inkubator bisnis," tuturnya.

Selain itu, Dwi mengatakan untuk mengubah Indonesia dengan UMKM maka harus mendorong UMKM masuk ke dalam rantai pasokan nasional dan global. "Langkahnya, dengan jaminan pinjaman, optimalisasi fintech, KUR skema khusus, pembiayaan khusus untuk UMKM yang berorientasi ekspor, dan pembiayaan dalam rantai bisnis penyediaan bahan pasokan," katanya. (jat


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun

Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun


Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru