Ternyata Pemkot Jogja Belum Miliki Rencana Pembangunan Industri Kota

YOGYAKARTA, BERNAS.ID - Di tengah pandemi COVID-19 tahun 2021, Pemkot Yogyakarta terus menyusun program unggulan untuk membangkitkan lagi sektor UMKM. Namun sayangnya Kota Jogja hingga kini belum memiliki Rencana Pembangunan Industri Kota (RPIK).

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DPKU) Kota Jogja Tri Karyadi Riyanto Raharjo mengakui, menurut UU No 4 tahun 2012, kota harus memiliki RPIK. 

"Kita belum rencana pembangunan industri kota. Sudah ada rancangannya tapi terbentur regulasi di atasnya," ungkap Tri, Rabu (3/3/2021).

Ia menjelaskan, rancangan RPIK itu terbentur Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) DIY yang baru ada tahun 2019. Sehingga RPIK Jogja belum terealisasi hingga kini.

"Kita tahun 2017 sudah membuat kajian, sudah ada naskah akademik, akan diundangkan, tapi terbentur itu," katanya.

Karena itu, tahun 2021 ini menurutnya kajian RPIK Jogja akan dimulai kembali. Ini untuk akhirnya diundangkan dalam Perda tahun 2021.

Tri menerangkan, Kota Jogja luasnya hanya 31,5 km2, karena itu menurut aturan di wilayah ini tidak diperkenankan untuk membangun industri skala menengah-besar. Yang bisa dilakukan dan sekaligus menjadi isi RPIK adalah mendorong pembangunan sentra-sentra industri di 14 kecamatan dengan mengandalkan produk unggulan.

"Akan digunakan sebagai basis FGD menyusun perda tersebut. Akan kita selesaikan tahun ini, RPIK selesai dan diundangkan," katanya.

Tri mencontohkan, Kota Jogja akan memiliki 29 sentra industri yang tersebar di 14 Kemantren/kecamatan. Misalnya ada sentra industri tahu, bakpia, jamu, tekstil, pakaian jadi, kerajinan kulit, aluminium, dan sebagainya.

"Ini masih terus dikembangkan," jelasnya.

Ia menambahkan, sejak tahun 2007, Pemkot Jogja juga sudah memiliki Unit Pelayanan Teknis (UPT) Logam, yang awalnya memproduksi alat rumah tangga seperti wajan dan ketel, namun kini meluas ke alat kesehatan dan aksesoris.

Untuk lebih mendayagunakan, sejak 2016 UPT Logam sudah dijadikan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), dan kini sudah mampu memproduksi unit lampu Panasonic, bekerjasama dengan Jepang.

"Kami ingin produksinya melibatkan warga sekitar UPT, warga Giwangan," katanya. 

Dan untuk ke depan, tahun 2021 dan 2022  tematik pembangunan ekonomi menurutnya akan dikaitkan erat dengan sektor pariwisata. Karena itu UPT Logam menurutnya akan dijadikan destinasi wisata.

"Belum ada pembelajaran edukasi crafting logam di tempat lain," ungkapnya. (den)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 60 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Investasi Menguntungkan - Tanah Kavling Siap Terima SHM Cuma 60 Jutaan - 3 Km ke Pusat Bogor Timur

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up