close

Bersenjata Ganco Hadapi Kemiskinan di Masa Pandemi

Bersenjata Ganco Hadapi Kemiskinan di Masa Pandemi

YOGYAKARTABERNAS.ID – Perempuan paruh baya itu terlihat membolak-balik sampah di tempat pembuangan sampah sementara, di Jl Ki Mangun Sarkoro, Yogyakarta, Rabu siang, 3 Maret 2021.  Jemari tangan kanannya menggenggam ganco yang bilahnya hampir lepas dari gagangnya.

Aroma sampah yang cukup menyengat seolah tak dipedulikan oleh perempuan yang akrab disapa Mbak Pia tersebut, meski masker yang dikenakannya tidak lagi menutup hidung dan mulutnya. Masker itu melorot hingga ke dagu.

Cuaca siang yang cukup gerah oleh teriknya matahari, semakin terasa panas ketika sejumlah kendaraan melintas, menerbangkan debu-debu di tepi jalan dan suara yang keluar dari knalpotnya cukup memekakkan telinga.

Wajah Mbak Pia sedikit basah oleh tetesan peluh. Tapi semangatnya mengobrak-abrik sampah di situ tak surut. Dia memasukkan sampah-sampah yang menurutnya masih bernilai ekonomis ke dalam karung.

Setelah dirasa cukup, Mbak Pia menggendong karung berisi sampah tersebut menuju sepedanya yang diparkir hanya beberapa meter dari situ. Dia membuka botol plastik berisi air yang dibawanya dari rumah, kemudian meneguknya perlahan. 

Pemulung Semakin Banyak

Mbak Pia mengaku sudah cukup lama menjadi pemulung. Dia memulung untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan dua anaknya yang masih kecil. Tapi, sejak pandemi Covid-19, Mbak Pia harus bersaing dengan lebih banyak pemulung baru.

Dampak pandemi, kata dia menyebabkan jumlah pemulung meningkat. Sebab banyak dari mereka yang tadinya bekerja, tetapi harus kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

Sebelum pandemi, selain memulung, Mbak Pia juga melakukan pekerjaan apa pun jika ada yang membutuhkan tenaganya, seperti menjadi buruh cuci, membersihkan rumah, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Sakniki tambah kathah, soale nggih tiyang muda, tiyang tua, lanang, wedok (sekarang tambah banyak, ya anak muda, orang tua, laki-laki, perempuan).

Selain pandemi, mengais rezeki dari memulung juga dianggap lebih mudah. Mereka bisa mendapatkan uang dari menjual sampah-sampah yang bisa didaur ulang.

Meski cukup mudah, tetapi hasil dari memulung tidak bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Terlebih selama pandemi, anak sekolah lebih banyak yang melakukan pembelajaran secara dalam jaringan (daring) atau online. Itu artinya dia harus membeli ponsel untuk digunakan oleh sang anak.

Nek mboten gadah HP kan kedah tumbas, tumbas nggih nek gadah yotro (Kalau tidak punya ponsel kan harus beli, beli juga kalau punya uang),” ucapnya sedikit mengeluh.

Mbak Pia mengaku anaknnya sudah memiliki ponsel untuk mengikuti sekolah secara daring, tetapi ponselnya sudah sering rusak, sehingga sedikit menyulitkan untuk belajar.

“Terus ibunya mau mencari uang dari mana?”

Mbak Pia mengaku dirinya sudah lama menjanda, dan selama ini menjadi tulang punggung untuk keluarga. Beruntung, salah satu anaknya tinggal bersama sang kakak di Pulau Kalimantan, sehingga dia tinggal menghidupi dirinya dan dua anaknya yang lain.

“Yang satu diambil budenya di Kalimantan, yang ada di sini tinggal dua. Tapi yang satu sudah tidak mau sekolah karena melihat kondisi sekarang, dia melihat kondisi ibunya yang sedang sulit,” lanjut Mbak Pia dalam bahasa Jawa.

Saat ditanya mengenai bantuan dari pemerintah atau pihak lain, Mbak Pia mengatakan dirinya  mendapatkan bantuan berupa beras. “Itu berasnya dimasak, tapi kalau tidak ada lauk kan bagaimana.”

Kini setiap hari Mbak Pia harus menempuh perjalanan berkilo-kilometer dari rumahnya di kawasan Kotagede untuk mengais sampah. Dia memulung hingga ke kawasan Bulaksumur, Lempuyangan, dan lokasi lain di Yogyakarta.

“Kadang sepedane rusak, jadi ya saya tuntun sampai di rumah.”

Sosok Mbak Pia mungkin tidak mewakili potret kemiskinan yang ada di Indonesia atau di Yogyakarta, tetapi berdasarkan pengakuannya bahwa jumlah pemulung yang semakin meningkat, mungkin bisa membuka mata tentang kondisi saat ini.

Beberapa waktu sebelumnya, seorang pemulung lain yang ditemui di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul, Bejo, 50 tahun, mengaku penghasilannya menurun drastis selama pandemi.

Keluhan tentang berkurangnya penghasilan, menurut Bejo bukan hanya dari satu atau dua orang saja, tetapi hampir semua pengumpul sampah.

"Semua mengeluh, Mas. Tidak ada yang tidak mengeluh, yang ekonomi, semuanya. Terutama sekali memang ekonomi," ungkapnya.

Bejo juga mengatakan bahwa selama pandemi jumlah pemulung di lokasi itu bertambah banyak, tetapi dia tidak bisa menjelaskan persentase atau jumlah peningkatannya.

Data Kemiskinan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Yogyakarta yang diunggah melalui laman resminya pada 28 Januari 2021, diketahui jumlah penduduk miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2020 sebanyak 475,72 ribu, atau meningkat jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada tahun 2019 yang jumlahnya 448,47 ribu, atau jika dibandingkan dengan jumlah pada tahun 2018 yang jumlahnya 460,10 ribu.

Dari data yang sama diketahui jumlah penduduk miskin di Kota Yogyakarta pada tahun 2020 sebanyak 31,62 ribu, Kabupaten Bantul 138,66 ribu, Kabupaten Kulon Progo 78,06 ribu, Kabupaten Sleman 99,78 ribu, dan Kabupaten Gunugkidul sebanyak 127,61 ribu. Jumlah angka kemiskinan di masing-masing kabupaten tersebut juga meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara, berdasarakan data yang diunggah di laman yang sama pada tanggal 29 Januari 2021, diketahui persentase penduduk miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta pun meningkat, yakni sebanyak 12,28 persen pada tahun 2020. Jumlah itu lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang besarnya 11,70 persen, atau tahun 2018 sebanyak 12,13 persen.

Persentase penduduk miskin di lima kabupaten/kota di DI Yogyakarta pun meningkat, yakni sebanyak 7,72 persen di Kota Yogyakarta, 13,50 pesen di Kabupaten Bantul, 8,12 persen di Kabupaten Sleman, 18,01 persen di Kabupaten Kulon Progo, dan 17,07 persen di Kabupaten Gunungkidul.

Sementara, berdasarkan data dari laman resmi Bappeda Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah pemulung yang tercatat sepanjang tahun 2020 sebanyak 465 orang, atau sama dengan jumlah pemulung tahun 2019. Jumlah itu menurun jika dibandingkan dengan data jumlah pemulung tahun 2017 sebanyak 511 orang, atau jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang jumlahnya 467 orang.

Dari sumber data yang sama, diketahui jumlah anak jalanan di DI Yogyakarta pada tahun 2020 masih sama dengan tahun 2019, yakni sebanyak 72 orang, atau meningkat lima orang jika dibandingkan tahun 2018 yang jumlahnya 67 orang. Sedangkan jumlahnya pada tahun 2017 sebanyak 348 orang.

Jumlah pengemis di DI Yogyakarta pada tahun 2020 juga sama dengan tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 147 orang, atau meningkat jika dibandingkan tahun 2018 yang jumlahnya 134 orang, dan menurun jika dibandingkan dengan jumlah pada tahun 2017 yang jumlahnya mencapai 170 orang.

Masih dari sumber data yang sama, jumlah gelandangan di DI Yogyakarta pada tahun 2020 juga sama dengan tahun 2019, yakni 197 orang atau meningkat tujuh orang jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang jumlahnya sebanyak 190 orang, tetapi jumlah itu menurun tajam jika dibandingkan dengan jumlah gelandangan pada tahun 2017 yang mencapai 236 orang.

Meski jumlah data ketiganya tercatat sama dengan jumlah tahun 2019, pada keterangan di laman itu disebutkan bahwa data tahun 2020 tersebut masih merupakan data sangat sementara.


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun

Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun


Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru