close

172 Tahun Menghilang, Burung Pelanduk Kalimantan Ditemukan Kembali

172 Tahun Menghilang, Burung Pelanduk Kalimantan Ditemukan Kembali

JAKARTA, BERNAS.ID - Burung Pelanduk Kalimantan (Malacocincla Perspicillata) yang merupakan salah satu satwa endemik, diduga mengalami kepunahan sejak tahun 1848 atau 172 tahun yang lalu kembali ditemukan. Burung tersebut kembali dijumpai di Pulau Kalimantan yang lebih tepatnya Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada para citizen science yang masyarakat bukan peneliti tetapi sukarela dalam mengumpulkan dan menganalisa data ilmiah tentang burung Pelanduk Kalimantan.

"Satwa liar akan sejahtera apabila hidup di alam habitatnya, hal ini juga menegaskan bahwa kami sangat memerangi perburuan ilegal satwa liar yang dilindungi," ujarnya saat media briefing virtual, Selasa (2/3/2021).
 
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal KSDAE, Indra Eksploitasia, juga menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat yang telah menemukan burung Pelanduk Kalimantan dan memasukkannya ke jurnal ilmiah serta mengharumkan nama Bangsa Indonesia.

Indra mengungkapkan, sesuai arah kebijakan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Kebijakan Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang menyebutkan apabila ingin memasukkan spesies ini ke dalam spesies yang dilindungi yaitu jika telah memenuhi kriteria antara lain populasi yang kecil, dan ada penurunan dalam jumlah yang tajam pada jumlah individu di alam, serta memiliki daerah penyebaran yang terbatas.

Burung Pelanduk Kalimantan seperti diketahui, tersebar di daerah hutan tropis dataran rendah wilayah Kalimantan. Terhadap jenis satwa yang memenuhi kriteria wajib melakukan upaya pengawetan, dalam hal ini melakukan kebijakan konservasi dalam untuk melakukan full protection atau dilindungi.

"Terkait dengan burung Pelanduk Kalimantan ini, banyak informasi yang masih dapat kita gali. Beberapa informasi bisa dijadikan dasar rujukan dengan bantuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), guna memberikan rekomendasi sebagai scientific authority kepada management authority untuk memasukkan burung Pelanduk ini sebagai spesies yang dilindungi," jelas Indra.

Sementara itu, Teguh Willy Nugroho selaku Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Pertama, Balai Taman Nasional (TN) Sebangau, Kalimantan Tengah, menjelaskan burung Pelanduk Kalimantan yang ditemukan sesuai dengan gambaran dari Ahli Ornitologi Prancis, Charles Lucien Bonaparte pada tahun 1850 dan berdasarkan spesimen yang telah dikumpulkan pada sekitar tahun 1840 oleh Ahli Geologi dan Naturalis Jerman, Carl A.L.M Schwaner selama ekspedisinya ke Pulau Kalimantan. Sejak saat itu tidak ada penampakan lain atau spesimen yang dilaporkan. Asal muasal spesimen burung Pelanduk Kalimantan ini masih menjadi misteri, bahkan pulau dimana spesimen tersebut diambil juga belum jelas.

Asumsi awal spesimen tersebut diambil di Pulau Jawa, tapi pada tahun 1895 Ahli Ornitologi Swiss, Johann Büttikofer menunjukkan bahwa waktu itu Schwaner berada di Pulau Kalimantan. Spesimen burung Pelanduk Kalimantan ini kemudian menjadi spesimen satu-satunya di dunia sehingga deskripsi morfologi burung dan semua rujukan mengacu pada satu spesimen ini.
 
Burung Pelanduk Kalimantan ini merupakan burung penyanyi yang digolongkan dalam keluarga Pellorneidae, yang sebelumnya oleh IUCN diklasifikasikan rentan. Kemudian tahun 2008, berdasarkan penelitian terbaru status burung ini berubah menjadi "Kurang Data". Pada Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 tahun 2018 disebutkan bahwa burung ini belum masuk ke dalam satwa yang dilindungi.  
 
Kronologi penemuan burung ini berawal dari ketidaksengajaan oleh dua orang penduduk lokal di salah satu wilayah Kalsel, yang salah satunya adalah anggota dari sebuah grup sosial media bernama Galeatus. Galeatus merupakan grup komunitas dan komunikasi mengenai seluk beluk burung. Setelah mereka berdiskusi dan ditelaah oleh tim admin, kemudian mereka menghubungi ahli burung dari Birdpacker untuk mencari informasi lebih lanjut terkait temuan burung tersebut.  
 
"Anatomi burung yang ditemukan tersebut terdapat perbedaan mencolok dengan literasi yang ada saat ini. Diantaranya ada pada warna iris mata, paruh dan warna kaki. Karena itulah identifikasi saat pertama kali melihat morfologi burung ini mengalami kesulitan," jelas Teguh.
 
Teguh menambahkan dengan adanya temuan ini membuktikan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia masih ada ditemui pada bagian-bagian terdalam hutan. Menurut Teguh, pada kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini sangat penting membangun jaringan antara masyarakat lokal, peneliti profesional, peneliti pemula, serta berbagai pihak terkait untuk mengumpulkan informasi tentang keanekaragaman hayati di Indonesia, terutama spesies penting yang hanya memiliki sedikit data. "Jejaring seperti ini akan berdampak besar bagi kelestarian satwa di Indonesia," kata Teguh. (cdr)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun

Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai Diskon 80jt DP 5 Persen Angsuran 20 Tahun


Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru