Warga Larung Doa Keselamatan Bangsa dan Kelestarian Alam ke Sungai Progo

SLEMAN, BERNAS.ID - Sejumlah warga pinggiran Kali Progo memohon doa keselamatan bangsa dan kelestarian alam agar terhindar dari marabahaya bencana alam dan wabah virus Covid-19. Para warga yang mayoritas berasal dari Dusun Kliran, Kisik, dan Jomboran Minggir, Sleman tampak khusyuk mengikuti prosesi saat doa-doa didasarkan. Setelah itu, sejumlah sesaji dilarung di sungai oleh para pemuka agama. 

Istimewanya, perwakilan dari lintas agama, Islam, Khatolik, Hindu, Budha, Kristen, dan aliran kepercayaan memanjatkan doa keselamatan secara bergantian untuk kelestarian alam dan keselamatan bangsa. Untuk uba rampe sesaji, seperti nasi tumpeng, jenang warna-warni, ayam ingkung, kembang, buah-buahan, dan dupa ditata rapi di bibir Kali Progo.

Sukardi Siratmaja, selaku penyelenggara mengatakan doa bersama lintas agama dengan ube rampe sesaji merupakan wujud keprihatinan karena rusaknya alam saat ini, terutama sungai. "Doa kelestarian alam. Tujuan memohon keselamatan karena keprihatinan melihat rusaknya sungai karena ulah oknum tertentu," ujarnya, Kamis (4/3/2021).

"Ini salah satu cara untuk mematahkan atau menanggulangi kegiatan perusakan alam dengan cara spiritual, memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, wabah corona, dan kerusakan kali yang membabi-buta," imbuhnya.

Ia juga mengatakan doa bersama ini untuk mengajak dan mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga kelestarian kali agar tidak terjadi bencana longsor dan banjir.

Ikut hadir dalam doa bersama, Anggota Komisi X DPR RI My Esti Wijayati mengatakan, sungai sebagai jalan peradaban harus dijaga kelestariannya. "Ini juga menunjukkan seluruh umat beragama warga sekitar sini itu guyub, rukun dengan berdoa untuk satu hal yang sama, terhindar dari marabahaya, banjir, longsor dan virus korona segera berlalu. Kita semua berdoa kepada Tuhan YME agar semua doa dikabulkan oleh Tuhan," bebernya.

"Kita berharap tepian Sungai Progo ini kita jaga agar jangan sampai rusak. Jangan sampai adanya penambangan nanti merusak pinggiran-pinggiran Progo karena itu membahayakan," imbuhnya.

Secara pribadi, Esti mengatakan ijin tambang yang diberikan itu mesti jelas, misal radiusnya berapa dari tepian, berapa jaraknya dari jembatan. Tidak sekedar di sana belum ada pertambangan, lalu diberikan ijin. "Saya berharap regulasinya dan pemberi izin ketika memberi izin betul-betul detail. Kami punya harapan, pembangunan berjalan tapi jangan sampai atas nama pembangunan merusak lingkungan hidup," bebernya.

Di akhir kegiatan, sebanyak 200 bibit pohon ditanam di beberapa titik pinggiran Sungai Progo. Salah satunya, pohon asam yang cocok ditanam di wilayah pinggiran sungai. "Ini adalah salah satu cara kami untuk menjaga lingkungan," kata Esti. (jat)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 60 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Investasi Menguntungkan - Tanah Kavling Siap Terima SHM Cuma 60 Jutaan - 3 Km ke Pusat Bogor Timur

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up