Pandemi COVID-19 Akibatkan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan DIY Meningkat

YOGYAKARTA, BERNAS.ID - Kasus kekerasan terhadap perempuan di DIY kini kian meningkat. Hal ini rupanya didorong kuat oleh faktor pandemi COVID-19.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati menyebut data, pada 2020 total kasus kekerasan terhadap perempuan di DIY mencapai 895. Jumlah ini naik tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 600 kasus.

Menurut dia, pandemi telah menimbulkan tekanan ekonomi di tingkat keluarga. Hal itu memicu konflik yang berujung pada terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dan mayoritas korban KDRT ini adalah para istri dan anak-anak. 

"Pandemi COVID-19 membuat banyak tekanan di keluarga, yang sangat mungkin menghasilkan konflik dan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga KDRT," terang dia, Minggu (7/3/2021).

Kenaikan ini juga menurutnya terkait dengan semakin tingginya kesadaran korban kekerasan untuk melapor ke DP3AP2 DIY. Hal ini terkait dengan gencarnya kampanye "speak up" bagi korban kekerasan agar berani melapor.

"Setelah ada kampanye speak up, perempuan yang tadinya enggan mengakses layanan karena ketakutan tertentu lalu jadi punya keberanian," ungkapnya.

Ia meneruskan, guna menekan angka kasus, DP3AP2 DIY menggencarkan pencegahan bersama jaringan perempuan di DIY. Instansi ini juga memperbaiki layanan penjangkauan dan penanganan perempuan dan anak korban kekerasan di lembaga layanan baik di tingkat DIY yakni Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Korban Kekerasan "Rekso Dyah Utami" maupun Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak yang ada di kabupaten dan kota. 

"Sektor-sektor lain terutama semua OPD (Organisasi Perangkat Daerah) DIY juga dilibatkan dalam upaya ini lewat pelbagai pelatihan yang digelar Pokja (Kelompok Kerja) Pengarusutamaan Gender. Selain itu juga mengadakan rapat koordinasi dan pelatihan dengan Kaukus Perempuan Politik DIY," jelas dia.

Dan untuk meningkatkan peran-peran masyarakat umum dalam upaya menekan kasus, menurutnya dilakukan lewat pelatihan berupa webinar dan offline ke desa-desa. Ia menjelaskan lembaga-lembaga yang terkait dengan kekerasan perempuan ikut digerakkan melalui FPKK (Forum Perlindungan Korban Kekerasan), baik dari sisi pencegahan maupun penanganan kasus. 

"Karena masa pandemi maka kami dan semua jaringan yang ada di FPKK melakukan rapat dan penyusunan SOP baru penanganan korban kekerasan melalui daring. Diskusi permasalahan maupun koordinasi dalam hal penjangkauan dan penanganan kasus di lembaga-lembaga layanan juga mengoptimalkan daring dan WA grup," terang Erlina. 

Ia menambahkan, peringatan Hari Perempuan Internasional 2021 yang jatuh pada Senin (8/3/2021) diharapkan dapat menginspirasi semua pihak agar bisa terlibat dalam upaya mencegah kekerasan berbasis gender. Erlina juga berharap semua komponen masyarakat memiliki kesadaran bahwa hidup harmonis dalam relasi yang setara antara laki-laki dan perempuan harus ditanamkan sejak dini.(Den)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi


Lebih Lengkap

Trending

Sales Course yang Jamin 99 Persen Penjualan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan di Sedayu Jogja DP 10 Persen - Strategis di Jalur NYIA dan Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Rumah Cantik 300 Jutaan DP 10 Persen - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 60 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Investasi Menguntungkan - Tanah Kavling Siap Terima SHM Cuma 60 Jutaan - 3 Km ke Pusat Bogor Timur

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up