Berita Nasional Terpercaya

Kupersembahkan Hidupku Demi Pengetahuan, Meski Nyawa Taruhannya

0

“Malu bertanya sesat di jalan, tapi banyak bertanya malu-maluin.” Kita tentu sering mendengar kalimat semacam ini.

Marie Skodowska-Curie atau yang lebih kita kenal dengan nama Marie Curie dilahirkan dalam keluarga yang menyukai ilmu pengetahuan. Sejak kecil, rasa ingin tahunya terhadap ilmu pengetahuan sangat besar dan kedua orangtua Marie sangat mendukung dan membimbingnya sehingga Marie tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang penuh rasa ingin tahu dan senang belajar, bahkan berprestasi di sekolahnya. Setelah lulus dan mendapat nilai yang amat memuaskan, Manya, panggilan akrab Marie, melanjutkan pendidikannya di Universitas Sorbonne, Paris. Ketika kuliah pun, ia termasuk siswi yang gemilang.

Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru

Sayangnya, keadaan perekonomian keluarga yang kurang baik membuat Manya harus rela mengajar menjadi guru privat sambil menyelesaikan pendidikannya. Setelah lulus, ia bertemu dengan Pierre Curie, seorang pionir dalam bidang  kristalografi, magnetisme , dan  radioaktivitas dan menikah pada tahun 1895. Pasangan Curie menaruh minat yang amat dalam pada sains sehingga hidup perkawinan mereka diisi dengan percobaan-percobaan sains, secara khusus mereka menaruh minat pada unsur-unsur radioaktif.

Tidak sedikit masalah yang mereka hadapi, mulai dari kurangnya dana untuk pengadaan laboratorium, kesulitan memperoleh bahan baku, sampai berulang kali mengalami kegagalan dalam percobaan. Semuanya mereka lakukan dengan penuh kerja keras dan pantang menyerah. Kerja keras pasangan Curie berbuah manis ketika mereka menerima penghargaan Nobel di bidang Fisika pada tahun 1903 atas keberhasilan mereka memisahkan 0,1 gram Radium murni dari percobaan yang digeluti bersama selama 3 tahun 9 bulan.

Baca juga: Jurusan Manajemen: Pengertian Ilmu Manajemen dan Daftar Universitas

Marie sempat mengalami kesedihan yang luar biasa ketika Pierre Curie meninggal dunia pada tahun 1906. Namun karena kecintaannya pada Sains, Marie memutuskan untuk melanjutkan percobaan yang sudah dirintisnya bersama Pierre tanpa kenal lelah. Percobaan ini kembali membawa Marie memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Kimia pada tahun 1911—menjadikan Marie Curie sebagai satu-satunya ilmuwan wanita yang menerima dua penghargaan Nobel dari 2 bidang sains yang berbeda. Sampai akhir hayatnya, Marie Curie berjuang untuk memenuhi rasa hausnya akan pengetahuan, meskipun sampai menderita Leukimia karena terus-menerus terkena sinar radioaktif selama bertahun-tahun.

Dedikasi Marie Curie terhadap ilmu pengetahuan sangatlah tinggi, bahkan sampai saat ini, belum ada lagi perempuan dengan talenta dan dedikasi yang demikian besar terhadap ilmu pengetahuan. Marie terus menyelediki nuklir dan radioaktif hanya di dalam laboratorium sederhana. Bahkan ia tidak mau mendaftarkan penemuannya ke paten karena terlalu berpegang teguh pada prinsip, “Ilmu pengetahuan adalah untuk umat manusia.”

“Be less curious about people and more curious about ideas.” Marie Curie said.

Marie mengajarkan bahwa rasa ingin tahu itu amat penting dan perlu terus dipupuk supaya berkembang. Menjadi dewasa bukan berarti kehilangan rasa ingin tahu, melainkan menjadi individu yang semakin berkembang. Rasa ingin tahu tersebut tidak hanya berhenti pada pertanyaan saja melainkan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

Baca juga: Jurusan Ilmu Komunikasi: Info Kuliah, Pekerjaan, dan Universitas

Leave A Reply

Your email address will not be published.