Berita Nasional Terpercaya

“Kakek” Para Pengusaha Ini Berprinsip ‘Meskipun Miskin Tapi Tak Boleh Miskin Cita-cita’, Siapa Dia?

0

HarianBernas.com– Apa yang kamu rasakan ketika mimpimu menjadi bahan tertawaan ?

Marah? Menyesal? Putus asa? Hal inilah yang dialami olehku.

Tahukah kamu apa cita-citaku? Semasa kecil aku ingin menjadi insinyur pertanian. Waktu guru di kelas bertanya akan cita-citaku, aku mengungkapkannya, serentak teman-temanku menertawakan. Sepanjang hidupku dari SD hingga SMA, aku selalu diejek dan dihina karena aku berasal dari keluarga yang miskin namun cita-citaku dianggap terlalu tingggi dan tidak mungkin untuk ku capai.

Namun, sakit hatiku ini aku jadikan power untuk mencapai cita-citaku. Ayahku selalu menyemangatiku. Suatu ketika aku dibawa ke kebun jagung, aku membantu Ayahku menanam jagung, Ayahku berkata ?Kamu tahu kenapa Jagung itu ditimbun tanah? Timbunan tanah itu ibarat ujian dalam kehidupan kita, mau dihina, diejek, biarlah, tapi kita harus punya keyakinan suatu saat jagung yang ditimbun tadi akan tumbuh besar?. Ya, bagitulah kata-kata sang ayah yang menginspirasiku.

Ketika aku SMA, aku mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku ingin sekali Kuliah di IPB Bogor, Namun orang tuaku tidak menyanggupi karena sudah punya banyak sekali beban utang. Ini membuatku semakin serius untuk belajar, hingga aku bisa mendapatkan beasiswa, dan masuk tanpa tes serta bebas biaya di IPB. Perjuanganku dalam belajar tidak ku buat main-main.

Aku selalu teringat akan pesan yang Ayah sampaikan kepadaku. Aku harus bisa mengubah hidupku dengan usaha. Dan Alhamdulillah,  akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku dan menjadi insyisur pertanian. Sekarang aku sukses menjadi pengusaha, motivator, trainer, dan penulis buku yang inspiratif. Aku juga dikenal dengan sebutan ?Kakek? oleh pengusaha-pengusaha muda karena dari motivasiku banyak lahir pengusaha-pengusaha muda.

Oh ya, sebelumnya aku belum memperkenalkan diri padamu. Namaku adalah Jamil Azzaini. Aku Lahir di Purworejo 09 Agustus 1968. Aku lahir dari keluarga yang miskin, bahkan termiskin nomor 2 di kampungku. Namun kemiskinan keluargaku ini tak membuatku putus semangat. Ayahku pernah bicara kepadaku, ?Jamil, kita boleh lahir dari keluarga miskin, tapi kita tidak boleh miskin cita-cita?.

Kata-kata itu yang selalu teringat dalam benakku. Kita harus memiliki mimpi. Semua pencapaian hidupku ini bermula dari sebuah mimpi,  dan usahaku untuk melakukannya. Aku selalu menulis mimpi-mimpiku di buku. Mimpi itu tidak hanya dituliskan tapi harus diwujudkan dengan penuh keyakinan dan semangat.

Aku telah membuktikannya.

Bagaimana denganmu?

Leave A Reply

Your email address will not be published.