Berita Nasional Terpercaya

Mengenal Lebih Dekat Perbankan Syariah

0

HarianBernas.com – Saat ini banyak perbankan syariah yang menjalankan operasionalnya di Indonesia. Inovasi produk dan layanan yang mudah diakses dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat menjadi ?key sucses? perbankan syariah sehingga mampu bersaing dengan perbankan konvensional yang telah lebih dahulu eksis dalan perekonomian Nasional.

Tidak dapat dipungkiri banyak kalangan masyarakat yang belum begitu mengenal tentang perbankan syariah. Dalam tulisan ini, penulis akan mengajak mengenal lebih dekat keunikan perbankan syariah secara sederhana. Sebelumnya mari kita bahas definisi Bank Syariah.

Pada Undang-Undang nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Bank diartikan sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Sedangkan pengertian Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Perinsip syariah yang dimaksud adalah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.

Pengertian diatas bisa difahami bahwa Bank Syariah merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya dengan tujuan untuk meninkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Dalam operasionalnya Bank Syariah menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah berdasarkan fatwa dari lembaga yang berwenang. Deskripsi tersebut dapat dipahami bahwa dari segi produk dan layanan tidak terdapat banyak perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional, akan tetapi perbedaan itu terdapat dalam operasionalnya yang mewajibkan Bank Syariah selalu mengacu pada prinsip-prinsip hukum Islam.

Sebagai contoh, baik Bank Syariah maupun Bank Konvensional sama sama memiliki produk Dana Pihak Ketiga dalam bentuk giro, tabungan dan deposito. Dari segi persyaratan dan fiturnya tidak terlalu banyak perbedaan.

Perbedaan muncul pada operasional Dana Pihak Ketiga yang melarang Bank Syariah menyalurkan dananya kepada sektor yang haram. Tidak mungkin Bank Sayariah akan menyalurkan dana masayrakat untuk membiayai minuman keras, perjudian atau usaha lainnya yang bertentangan dengan Syariah.

Jika nasabah Bank konvensional akan mendapatkan bunga atas simpannanya, maka nasabah Bank Syariah mendapatkan bagi hasil atau bonus atas simpanannya. Bunga yang didapatkan oleh nasabah Bank Konvensional akan tetap sesuai presentase dari simpanannya berapapun keuntungan yang diperoleh Bank. Akan tetapi, bagi hasil yang didapatkan oleh nasabah Bank syariah akan sesuai dengan keuntungan yang diperoleh atas pengelolaan dananya oleh Bank Syariah.

Setelah mengetahui yang dimaksud Bank Syariah mari kita kenali lebih dekat keunikan lembaga tersebut. Menurut Bapak Muhammad Syafi?i Antonio dalam bukunya Bank Syariah dari Teori ke Praktik disebutkan ada beberapa perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional diantaranya:

1. Akad dan Aspek Legalitas

Pada Bank Syariah akad yang dilakukan tidak berhenti pada aspek legal biasa akan tetapi memiliki konsekwesi secara spiritual. Akad (perjanjian) yang dilakukan saat ini haruslah sesuai dengan Syariah seperti terpenuhinya aspek syarat dan rukun akad.

Rukun yang harus dipenuhi dalam akad Ban Syariah adalah kepastian para pihak yang melakukan akad, objek akad dan ijab qabul. Sedangkan syarat akad yang harus dipenuhi seperti kehalalan objek akad, kejelasan detail kualitas objek akad, kuantitas objek akad, harga objek akad, cara penyerahan barang, serta kepemilikan barang yang ditransaksikan.

Akibat hukum atas akad di Bank Syariah bisa kita lihat pada produk KPR iB yang menggunakan akad murabahah (jual beli). Dalam akad tersebut dikarenakan menggunakan akad jual beli maka harus dipastikan pihak penjual rumah (Bank Syariah), Pembeli rumah (Nasabah) dan harga rumah yang perjual belikan akan disebutkan di dalam akad dan tidak akan berubah sampai dengan perjanjian selesai.

Jika harga rumah disepakati oleh keduabelah pihak sebesar Rp. 180 juta dan diangsur selama 180 bulan (15 tahun) maka angsurannya adalah Rp. 1.8 juta per bulan (Rp. 180 juta / 180 bulan). Angsuran tersebut tidak akan berubah sampai lunas dikarenakan harga sudah disepakati oleh para pihak. Walaupun kondisi ekonomi memburuk atau suku bunga perbankan naik berkali lipat angsuran itu tidak akan berubah. Dalam hal ini nasabah akan mengalami ketenangan dan kepastian dalam menjalankan kewajibannya dikarenakan tidak akan dihantui ketakukan angsuran KPR yang naik/floating.

2. Lembaga Penyelesaian Sengketa

Penyelesaian sengketa Perbankan Sayariah dilakukan melalui musyawarah, melalui mediasi perbankan, melalui Badan Arbritase Syariah Nasional (Basyarnas) dan melalui Peradilan Agama.

3. Struktur Organisasi

Pada dunia perbankan syariah mempunyai struktur yang bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap operasionalnya yaitu Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Dewan Pengawas Syariah (DPS) betugas untuk : Pertama, mengawasi produk-produk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariah Islam. Kedua, meneliti dan memberikan fatwa bagi produk-produk yang akan dikembangkan Bank Syariah.

Ketiga, memberikan rekomendasi para Ulama yang akan ditugaskan sebagai Dewan Pengawas Syariah (DPS), Keempat, memberikan teguran kepada Bank syariah yang menyimpang dari ketentuan. Jika teguran tersebut tidak diindahkan maka DSN dapat mengusulkan kepada otoritas yang berwenang untuk memberikan sanksi.

Dewan Pengawas Syariah bertugas untuk : Pertama, mengawasi operasional Bank Syarah sesuai dengan ketentuan syariah. Kedua, membuat pernyataan bahwa Bank yang diawasinya telah menjalankan operasionalnya sesuai dengan ketentuan syariah. Ketiga, meneliti dan merekomendasi produk baru dari Bank yang diawasinya untuk kemudian diajukan kepada DSN.

4. Bisnis yang Dibiayai

Pada Bank Syariah suatu pembiayaan tidak akan disetujui sebelum dipastikan beberapa hal pokok diantaranya:

  • Kehalalan objek dan bisnis yang akan dibiayai.
  • Dampak dari proyek yang dibiayai tidak menimbulkan kemadharatan.
  • Proyek yang dibiayai tidak mengandung unsur asusila.
  • Proyek yang dibiayai tidak mengandung unsur Perjudian dan minuman keras.
  • Proyek yang dibiayasi tidak merugikan syiar Islam baik langsung ataupun tidak langsung.

5. Lingkungan Kerja

Bank Syariah akan senantiasa menjaga lingkungan kerjanya sesuai dengan tuntunan syariah. Sehingga para karyawannya akan senantiasa melakuan peningkatan skill dan profesionalisme dalam melakukan tugasnya.

Dalam hal etika misalanya diwajibkan semua unsur di Bank Syariah wajib memegang sikap siddiq (berintegritas tinggi), tabligh (komunikatif), amanah (profesional) dan fathonah (berintelektual). Dalam menjalankan tugasnya karyawan Bank Syariah harus menjaga etika pergaulan antar lawan jenis. Bagi karyawan Muslim wajib senantiasa melakukan ibadah sesuai syariah dan senatiasa berpakaian yang menutup aurat baik didalam maupun diluar kantor.

Walaupun dalan operasionalnya Bank Syariah menjadikan hukum Islam sebagai dasarnya, bukan berari Bank Syariah esklusif untuk orang Islam saja. Bank Syariah bersifat universal dan bisa melayani semua kalangan tanpa memandang Suku, Agma dan Ras tertenu. Selama memenuhi persyaratan maka semua kalangan bisa menikmati layanan perbankan syariah.

 

Eka Jati R. Firmansyah

Praktisi Perbankan Syairah.

Pemerhati dan Trainer Ekonomi Syariah.

Tinggal di Yogyakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.