Berita Nasional Terpercaya

Cerita Tony Sukentro: Dokter Bedah Seperti Tentara, Harus Siap Kapan Pun

0

BERNAS.ID – Tidak terbersit dalam pikiran seorang Tony Sukentro apabila suatu saat nanti dia akan menjadi dokter spesialis bedah di Jakarta.

Namun, rencana Tuhan memang lebih indah. Tony yang semula tidak muluk-muluk dalam kariernya, justru kini telah berpengalaman lebih dari 10 tahun di bidangnya. Dibesarkan di keluarga yang tidak berlatar belakang sebagai dokter, membuat dr. Tony Sukentro, Sp.B berharap kemampuannya kelak akan membantu keluarganya.

Menjadi dokter bedah seperti layaknya tentara harus siap kapanpun, bahkan harus meninggalkan keluarganya. Baginya, setiap detik sangat berharga pada pasien untuk bisa diselamatkan.

Baca Juga: Kisah Haryo Ardito, 20 Tahun Berkarier Profesional Hingga Jadi DieHard Motivator

Lalu, bagaimana kisah dokter Tony dalam merintis kariernya? Karena faktanya, dulu ia justru bercita-cita menjadi pilot.

Motivasi Awal

Kepada Bernas.id, Tony mengaku awalnya ingin menjadi pilot. Tapi dia harus menggugurkan asanya itu karena memakai kacamata sejak SD.

Dengan mata minus 4, harapan tersebut pupus sudah, apalagi biaya prosedur operasi lasik pada waktu itu sangat mahal. Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak menaruh harapan besar menjadi pilot.

“Saat SMA, saya cari tahu ke mana-mana bahwa sudah tidak mungkin lagi saya menjadi seorang pilot kecuali dioperasi, lasik masih sangat mahal, jd susah sekali, belum seperti sekarang,” ucapnya.

Sampai pada suatu ketika, sebuah momen mengubah jalan hidupnya. Ada anggota keluarganya yang sakit dan dirawat di rumah sakit. 

Sebagai orang awam, dia dan keluarganya tidak mengerti bahasa medis yang disampaikan oleh tenaga kesehatan. Merasa kesulitan, Tony bertekad untuk menjadi dokter sehingga bisa membantu keluarga atau orangtuanya ketika sakit.

“Kebetulan keluarga besar saya tidak ada yang menjadi dokter waktu itu,” kata pria kelahiran Jakarta pada 1974 itu.

“Karena kesulitan itu, saya kepikiran untuk jadi dokter. Jadi kalau ada keluarga atau orangtua saya sakit akan gampang. Kita jadi punya kenalan di RS, saya mengerti bahasa medis, ini motivasi awal saya,” jelasnya.

Tak Ambisius

Tony pun mewujudkan keinginannya dengan mengambil S1 Fakultas Kedokteran di Unika Atma Jaya, Jakarta. Dia menjalani studinya tanpa mengejar ambisi.

Setelah lulus, ia pun menjadi dokter umum untuk bagian IGD di RS Dharma Nugraha. Ketika itu, ia tidak pernah terpikir akan meneruskan studi dengan mengambil spesialisasi tertentu.

“Jadi saya pikir saya nggak mau bermimpilah karena belum biayanya yang besar, lalu terus seleksinya seperti masuk ke ujung jarum,” katanya.

“Jadi daripada saya kecewa, jadi saya nggak bermimpi, jadi mustahil mendapatkan spesialisasi,” imbuhnya.

Namun, sebuah kesempatan hadir. Dia ditawari untuk mengikuti seleksi untuk melanjutkan studi di Universitas Indonesia. Sekali lagi, ia tidak berharap banyak.

Ada tiga pilihan program spesialis kedokteran yang bisa dipilih Tony, yakni anestesi, bedah, dan penyakit dalam. Ia tertarik dengan bedah karena sifatnya yang taktis.

Baca Juga: Kisah Ahmad Saifudin Mutaqi, Lahirkan Mahakarya dan Ajak Arsitek untuk Merdeka

Dia mengaku menyukai olahraga ekstrem seperti naik gunung, berburu, dan rafting, sehingga ia lebih berminat dengan bidang bedah yang lebih menantang.

“Akhirnya setelah mendapatkan rekomendasi, saya ikut ujian. Di ujian ini saya pikir nggak bakal masuklah, saya dari swasta bukan dari UI,” tuturnya.

Tiga tes tertulis seperti Bahasa Inggris, psikotes, dan teori ia lalui dengan hasil paling unggul di antara peserta lainnya. Meski begitu, ada satu tes yang paling menentukan dan bersifat subyektif yakni tes wawancara. Ia seharusnya menghadapi profesor yang terkenal “killer”. Sekali lagi, rencana Tuhan untuk Tony lebih indah.

Sang profesor sakit sehingga harus diganti penguji lainnya. Selama tes wawancara, ia mampu menjawab pertanyaan bahkan dengan Bahasa Inggris. 

Singkat cerita, Tony lolos dan berhasil menyelesaikan studinya selama lima tahun di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sebagai dokter spesialis bedah. Ia pun menjadi lulusan terbaik dengan Cum Laude.

Satu Nyawa Berharga

Selama menempuh studi, Tony tentu melewati berbagai pengalaman unik. Namun, ada dua peristiwa yang sampai sekarang tidak pernah ia lupakan.

Suatu hari, ketika masih menjadi dokter muda atau koas, Tony berangkat kerja seperti biasa dengan menggunakan motornya. Lalu di jalan, terjadi kecelakaan berat antara dua motor.

Ia melihat korban pingsan di depannya. Naluri dokternya pun muncul. Dia segera melakukan pertolongan pertama kepada salah satu korban dengan metode cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru (RJP).

“Saya langsung RJP di tempat, kalau sekarang itu sudah berbahaya karena bisa tertular Covid, HIV, dan lain-lain. Saya berikan RJP, mouth to mouth, pompa jantung dan sebagainya. Jadi itu benar-benar saya lakukan apa yang sudah saya pelajari,” jelasnya.

“Dia bisa hidup lagi, ada napasnya, dan korban dibawa naik mikrolet ke rumah sakit,” ujarnya.

Peristiwa lainnya, yang bagi Tony merupakan sebuah keajaiban adalah ketika menangani pasien. Seorang perempuan muda mengalami kecelakaan dan mengalami syok berat.

Dengan kondisi limpa pecah dan Hemoglobin (Hb) hanya 2 g/dL. Pasien tersebut sangat pucat ketika masuk meja operasi. Ketika mengoperasi pasien tersebut, Tony bercanda dengan berbicara dalam hati jika perempuan itu bisa hidup maka akan menikah dengannya.

Setelah melewati tahap operasi, pasien itu ternyata mampu bertahan dan hidup. Tentu ia tidak bisa menepati perkataannya karena ia sudah memiliki istri.

Baca Juga: Kisah Dokter Sekaligus Penulis Dito Anurogo, dari Hobi Menulis hingga Melenggang ke Luar Negeri

Namun pelajaran yang dipetik oleh Tony dari peristiwa tersebut adalah jangan pernah ragu untuk menolong, karena sekecil apapun kemungkinannya setiap orang masih punya kesempatan untuk hidup.

“Itu sangat besar, saya melakukan operasi emergency yang paling hebat menurut saya, benar-benar takjub dengan kuasa Tuhan,” katanya.

Menyeimbangkan Kehidupan

Kini ada banyak serial televisi yang menampilkan pekerjaan sehari-hari dokter bedah seperti The Good Doctor dan Grey's Anatomy.

Menurutnya, meski ada sedikit bumbu-bumbu drama, namun serial tersebut cukup akurat dalam menggambarkan pekerjaan dokter bedah. Memang menjadi dokter bedah itu harus bisa melupakan keluarga dan dirinya sendiri.

Tony menilai seorang dokter bedah harus siap kapanpun seperti halnya tentara. Setiap detik akan sangat berharga bagi nyawa pasien.

“Jadi mau dipanggil kapan saja harus siap karena bisa saja ada pasien usus buntu pecah, pasien kecelakaan, terus pascaoperasi terjadi pendarahan, itu tidak bisa ditunda,” katanya.

Keluarganya bahkan sudah biasa mengetahui dirinya tiba-tiba menghilang karena harus segera menangani pasien. Jangan sampai pasien bermasalah karena penanganan yang terlambat.

Dengan pekerjaan yang sedemikian berat, Tony harus mempersiapkan dirinya untuk siap kapanpun. Kuncinya adalah sayang dengan diri sendiri.

Love yourself, menurut Tony, sangat penting dalam kehidupan seorang dokter bedah. Dengan tidur cukup, makan makanan bergizi, minum vitamin, dan olahraga adalah caranya untuk mencintai diri sehingga dapat menangani pasien dengan baik.

“Ketika kita tahu diri kita sedemikian berharga, kita nggak akan main-main sama diri kita,” ucapnya.

Baca Juga: Perjalanan Profesor Suhono, Guru Besar ITB yang Jadi Sosok di Balik Smart City di Indonesia

“Banyak dokter sibuk bekerja, tapi gagal ginjal, diabetesnya tinggi karena nggak pernah dicek kesehatannya, harus care sama diri sendiri karena dia adalah aset terbesar,” jelasnya.

Sementara secara psikologis, dia selalu memberikan pengertian kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya tentang komitmennya menjadi dokter bedah.

“Dokter itu adalah amanah, nggak semua orang bisa jadi dokter,” ujarnya.

Bagi Tony, menjadi dokter bedah selayaknya seorang seniman pematung, pemahat, dan pelukis, yang hasil karyanya tidak akan sama dengan yang lainnya.

Wisata Medis dan Pancasila Dokter

Selain menjalani keseharian sebagai dokter bedah, Tony juga menjadi Bendahara Asosiasi Wisata Medis Indonesia atau AWMI.

Dia berpendapat potensi wisata medis di Indonesia sangat besar. Meski begitu harus dibarengi dengan kemampuan selain bidang kesehatan yang harus dimiliki oleh setiap nakes.

“Jadi dokter di Indonesia itu kemampuannya sudah sangat baik sekali. Cuma kemampuan untuk berbicara, kemampuan untuk menjual dirinya, mempromosikan dirinya itu masih sangat kurang,” katanya.

Ada lima hal yang perlu dimiliki setiap dokter. Tony menyebutnya sebagai pancasila. Apa saja itu?

Pertama adalah promotif. Seorang dokter harus memberikan edukasi dan mencerdaskan bangsa. Bukan berupa promosi yang menyebutkan dirinya yang paling hebat atau paling murah, dan sebagainya.

“Promosi itu adalah untuk memberikan edukasi. Dokter harus memberikan edukasi kepada masyarakat baik berupa media sosial, tulisan, atau penyuluhan secara langsung,” tuturnya.

Kedua adalah preventif. Seorang dokter harus mampu mencegah, artinya dokter tidak melulu soal mengobati pasien. Dengan edukasi, pasien diberikan informasi tentang cara mencegah penyakit.

Ketiga adalah kuratif. Dokter bukan sekadar mengobati, tapi mencegah dan memberikan edukasi. Dia yakin dengan cara seperti ini, pasien tidak akan lari ke pengobatan lainnya.

Keempat adalah rehabilitasi. Dokter harus berupaya agar pasien dapat kembali ke pekerjaan semula. Artinya, dokter mampu untuk beraktivitas seperti sedia kala dan menjalani pekerjaannya meski telah melewati tahap operasi.

“Jadi kita harus cari terobosan supaya setelah operasi itu nggak sakit sehingga ia bisa bekerja sebagai kuli, pelatih gym, atau pemain bola,” ujarnya.

“Kalau masih sakit, berarti tekniknya masih gagal. Operasi bukan memberi jelek tapi mengembalikan dirinya ke posisi semula,” imbuhnya.

Kelima adalah monitoring. Dia melihat pelayanan di bidang kesehatan masih kalah dengan bengkel dan hotel. Menurutnya, perlu ada upgrade skill bagi nakes untuk mampu meningkatkan pelayanan.

Baca Juga: Kisah Roby Ikhsan, Putra Aceh yang Mencintai Teknologi, Kini Berkarier di Kanada

“Kalau bengkel setelah diservis, pasti dihubungi bagaimana pelayanan kami, kapan kembali lagi, ada yang bisa kami bantu, dan lain-lain,” ucapnya.

“Tapi di rumah sakit belum pernah ada. Kepedulian seperti itu perlu karena yang di-treat adalah manusia, nyawa,” katanya.

Menurutnya, hal-hal seperti itulah yang bisa dilakukan oleh AWMI sehingga mampu menonjolkan sisi kemampuan dokter. Dokter akan belajar bagaimana berbicara kepada pasien, self marketing, bersikap etis, dan sebagainya.

“Kita harus benar-benar bercermin pada negara lain, kenapa Singapura bisa, Malaysia bisa, Korea Selatan bisa, karena advertising mereka,” ucapnya.

Advertising yang sesuai kaidah kedokteran. Mereka tidak pernah menjual secara paket, harga sekian, operasi sekian, itu memang nggak etis,” imbuhnya.

Kreativitas Tinggi

Dalam kehidupan sehari-hari, Tony selalu menanamkan prinsip bersyukur atas apa yang telah diperoleh. Dia juga selalu berusaha melakukan yang terbaik, apalagi ketika menangani pasien.

Baca Juga: I Kadek Dian Sutrisna Artha, Siswa Teladan Jurusan IPA yang Berubah Haluan Jadi Ekonom

Kepada generasi muda yang ingin menjadi dokter bedah, dia selalu berpesan bahwa pekerjaan ini sangat membutuh kreativitas, komitmen, disiplin, dan pengetahuan yang luas.

“Kalau ada apa-apa yang disuruh adalah dokter bedah karena kita dikenal taktis, kita bisa me-manage dengan baik karena punya kreativitas yang tinggi saat operasi,” tuturnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.