Berita Nasional Terpercaya

Kisah Budi Seputro, dari Angkringan hingga Sukses Kembangkan Sate Ratu yang Dikenal 85 Negara

0

Bernas.id – Tak hanya terkenal dengan gudeg, Yogyakarta memang punya banyak kekayaan kuliner. Nah, salah satu kuliner legendaris yang menjadi incaran banyak wisatawan adalah Sate Ratu.

Berdiri sejak 16 Maret 2016, siapa yang menyangka kuliner yang awalnya berasal dari angkringan kecil ini telah berubah menjadi salah satu spot kuliner yang telah dikunjungi ribuan orang dari 85 negara.

Budi Seputro adalah salah satu orang yang dibalik kesuksesan Sate Ratu. Bersama seorang kawan baik, ia berhasil menyulap Sate Ratu menjadi jujugan kuliner ribuan orang saat berkunjung ke Yogyakarta.

Awal Mula Sate Ratu

Kepada Tim Bernas.id, Budi bercerita bahwa ide awal terbentuknya Sate Ratu bermula saat dirinya mulai jengah dengan pekerjaannya di bidang entertainment. Meski profesi tersebut mampu menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan baginya, Namun Budi merasa tak punya banyak waktu untuk keluarga. Berawal dari kegelisahan itulah, ia berinisiatif untuk alih profesi.

“Saya sudah 20 tahun lebih berada di dunia entertainment.Saya pernah menjadi general manager corporate club Hugos. Terakhir sebelum saya resign, saya sempat menjabat sebagai operation director untuk entertainment di sebuah grup hotel ternama,” ungkapnya.

Akan tetapi, jabatan yang mentereng di dunia entertainment tersebut tak membuat Budi merasa nyaman. Ia justru merasa lelah dan ingin memiliki sesuatu yang bisa diwariskan untuk anak cucunya kelak.

“Yah, dari situ saya dan beberapa teman membuat angkringan. Ketika merasa bahwa angkringan mungkin sulit berkembang, kami pun mengubahnya menjadi brand Sate Ratu,” tambahnya.

Dalam mengembangkan Sate Ratu, Budi mengatakan bahwa strategi marketing sangat berperan besar. Sebagai salah satu strategi marketing yang diandalkannya, Budi dan timnya mencoba memasuki pasar wisatawan asing. 

“Saya dulu berpikir setelah cukup kuat di market asing, pasti lebih mudah untuk masuk ke market lokal. Selain itu, di Yogyakarta juga jarang ada tempat makan yang produknya cukup bagus dan serius menggarap market asing. Yah, dari situ kami memutuskan untuk fokus ke market asing dulu,” ucapnya.

Kunci Sukses Sate Ratu

Agar menarik market asing, Budi dan tim juga menyiapkan berbagai “jurus”. Tak hanya menyiapkan produk berkualitas tinggi, Budi juga terjung langsung menyapa wisatawan yang berkunjung ke restorannya.

“Saya sengaja terjun langsung menyapa para tamu agar mereka ada pengalaman berinteraksi dengan orang lokal. Jadi, nggak cuma makan makanan enak tetapi juga bisa merasakan atmosfer lokal Yogyakarta,” tambahnya.

Menurut Budi, tidak banyak restoran di Yogyakarta yang menyajikan produk berkualitas dengan memberikan pengalaman yang berbeda kepada para pengunjung. Karena itu, ia mengambil kesempatan tersebut sebagai “jurus” untuk membuat nama Sate Ratu melambung.

“Dari sisi produk, kita memang sengaja menyajikan hal berbeda. Kami punya menu unggulan sate merah yang memiliki penyajian dan teknik gril yang berbeda,” ucap Budi.

Budi bercerita bahwa sate merah yang jadi menu favorit pelanggan Sate Ratu disajikan tanpa bumbu kacang seperti sate pada umumnya. Akan tetapi, daging ayam yang digunakan dimarinasi terlebih dahulu agar bumbu meresap langsung ke dalam. Setelah bumbu meresap sempurna, sate langsung diproses grill. Jadi, tanpa ada bumbu kacang pun daging sate tetap terasa sedap.

“Secara teknik marketing, Sate Ratu juga berbeda dengan brand restoran lainnya. Dengan memasuki market asing terlebih dahulu. Kami juga membangun brand awarness dengan membuat buku dan berinteraksi langsung dengan tamu. Hal inilah yang memperkuat posisi Sate Ratu,” tambah Budi.

Dalam memasarkan Sate Ratu, Budi juga memanfaatkan digital marketing. Ia memanfaatkan website dan berbagai media sosial untuk mempromosikan produk atau brand yang diusungnya.

Menurut Budi, digital marketing adalah cara terbaik yang membuatnya mampu menempuh pasar asing dalam waktu yang singkat.

“Jangkauan digital marketing sangat luas. Jika saya nggak menggunakan digital marketing, saya butuh waktu dan effort yang lebih banyak untuk mencapai pasar asing. Lagipula, memang digital marketing memang sudah menjadi trend. Semuanya sudah mengarah ke digital. Jadi, kalau mau bersaing ya kita harus adaptif,” tambahnya.

Baca juga: Kisah Mahendra Jaya, Pendeta Hindu yang Aktif Bantu Orang Lakukan Self Healing

Filosofi Dibalik Sate Ratu

Menu Sate Ratu yang berhasil membius banyak orang ternyata diolah langsung oleh Budi. Tanpa memiliki background kuliner atau tata boga, Budi berhasil menciptakan menu-menu yang mampu memanjakan lidah ribuan wisatawan.

“Saya tidak mengerti memasak dan tidak punya garis keturunan pengusaha restoran. Ini semua anugerah Tuhan. Tuhan mempermudah jalan saya agar punya banyak waktu lebih banyak dengan keluarga dan hal-hal yang lebih positif,” ucap Budi.

Budi juga bercerita bahwa nama Ratu dalam brand yang diusungnya juga tak luput dari cita-cita dan latar belakang dirinya. Sebelum membuat Sate ratu, Budi hanya ingin membuat sebuah produk berkualitas premium. Karena itulah, Budi dan tim memilih kata “Ratu” untuk menggambarkan produk berkualitas tinggi yang dipasarkannya.

“Yah, saat itu menurut kami kata ‘Ratu’ sangat mewakili segala hal yang bersifat premium dan sangat cocok dengan background Jawa yang ingin kami usung karena kata ‘Ratu’ menggambarkan kasta yang tinggi,” tambah dia.

Baca juga: Kisah Bobby Ardyanto Setyoaji, Berkat Hobi Traveling Sukses Kembangkan Dunia Pariwisata

Suka Duka Membangun Sate Ratu

Dalam membangun Sate Ratu, tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak suka duka yang dilalui oleh Budi dan timnya. Masa Sulit dalam membangun Sate Ratu diakui Budi datang ketika masa awal dirinya merintis bisnis tersebut. Budi mengakui bahwa masa-masa awal dalam merintis usaha adalah hal yang sulit karena mempertaruhkan kesabaran yang besar.

“Yah, saat awal-awal membangun Sate Ratu, pernah dalam satu hari pelanggannya cuma satu atau dua orang. Waktu itu saya hanya kerja berdua dengan istri saya dan buka warung dari pagi sampai malam. Tapi, saya selalu dikuatkan dan tetap meyakini bahwa memang bisnis yang dirintis sejak nol tidak mungkin bisa langsung beromset tinggi dalam sekejap mata,” ucap Budi.

Siapa yang menyangka, usaha kesabaran dan konsistensi Budi dalam membagun Sate Ratu berhasil berbuah manis. Dari bisnis yang awalnya hanya dikelola bersama sang istri, kini Budi sudah memiliki sekitar 60 pegawai.

Bahkan, pandemi Covid-19 yang banyak melumpuhkan bisnis restoran tak berdampak besar pada Sate Ratu yang dikelola oleh Budi. Terbukti, restoran Sate Ratu masih kebanjiran order. Bahkan, warga negara asing yang memang tidak bisa kembali ke negara asalnya atau sedang bekerja di area Yogyakarta pun masih setia mengunjungi restorannya.

“Meski wisatawan mancanegara sejak Pandemi Covid-19 sepi,  Sate Ratu sudah berhasil masuk ke pasar lokal. Jadi, restoran tetap kebanjiran pengunjung. Bahkan, WNA atau ekspatriat di sekitaran Yogyakarta pun masih setia berkunjung ke Sate Ratu,” ungkapnya.

Budi mengaku bahwa butuh waktu lima tahun untuk membuat nama Sate Ratu menjadi besar. Karena itu, ia menyadari bahwa kesabaran adalah kunci penting dalam membangun sebuah bisnis. Budi berkata bahwa bisnis yang dibangun secara bertahap akan lebih baik daripada dipaksakan. Sebab ketika momentum kesuksesan bisnsi itu tiba, hasilnya akan lebih memuaskan.

“Kesabaran itu kunci penting dalam merintis usaha, apalagi jika usaha itu dibangun dari nol. Jangan berharap ada bisnis bisa berkembang pesat dalam hitungan bulan atau satu tahun saja, kecuali jika ada ‘luck’ yang besar atau memang dipaksakan. Namun, biasanya bisnis yang dipaksakan itu hasilnya juga nggak bisa awet,” ungkap Budi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.