Berita Nasional Terpercaya

Damanhuri Si Guru Banyu, Rela Gadai Barang Berharganya Demi Air untuk Warga

2

GUNUNGKIDUL, BERNAS.ID – Posturnya kecil dan ramping dengan senyum yang selalu mengembang setiap berbicara. Tapi jangan salah, dibalik tubuh kecil itu, tersimpan energi yang besar, lebih besar dari gundukan perbukitan yang bertebaran di Desa (baca: Kalurahan) Banyusoco, Playen, Gunungkidul, kampung halamannya. Kelak, perjuangan inilah yang mengantarkannya terpilih menjadi Kepala Desa.

Namanya, Damanhuri, lelaki 50 tahun, si Guru Banyu, orang yang berhasil membuat mimpi buruk kekeringan dan kekurangan air yang berlangsung puluhan tahun di desanya, lenyap tak berbekas. Tekatnya yang luar biasa membuat delapan dusun berpencaran di desanya sukses mendapatkan layanan air bersih 24 jam sehari.

Perjuangan itu dimulai tahun 2006 lalu, beberapa bulan setelah Jogja diterak gempa bumi yang menewaskan 6000 orang lebih. Tak terkecuali Banyusoco ini. Bak jatuh tertimpa tangga dan masuk ke got pula, gempa bumi membuat warga Banyusoco tambah sengsara. Dilanda kekeringan setiap kemarau tiba, masih pula diguncang gempa yang merubuhkan ratusan rumah warganya.

Baca Juga : Pertama Kali, Sekolah Air Hujan Dibuka Di Jogja

Damanhuri hanyalah warga desa biasa kala itu. Hanya bedanya, pikirannya tak pernah berhenti bergerak dan mencari cara agar warga desanya bisa mendapatkan air bersih dengan mudah. Sebab, selama puluhan tahun, warga kampung-kampung di desa ini harus turun naik jalan setapak menuju sungai Oya demi mendapatkan air. Jika tak mau lelah, pilihan satu-satunya adalah membeli air satu tanki dengan harga lebih dari seratus ribu sekali datang yang hanya bertahan untuk dua minggu.

“ Perjuangan paling berat adalah meyakinkan warga bahwa sebenarnya air bisa kita bawa naik ke rumah-rumah kami,” kata Damanhuri kepada Bernas.id, mengenang masa awal perjuangannya. Beruntung masih ada beberapa orang yang tertarik mimpi besar itu. “ Hanya beberapa orang saja yang mau bergabung dengan saya,” kata Damanhuri. Warga lainnya, alih-alih mendukung, sebagian besar malah mengolok-olok. Apa mungkin air akan bisa menaiki bukit hingga mencapai rumah warga?

Membayangkan air mengalir di rumah-rumah warga desa ini memang bukan cita-cita sembarangan. Pertama, kawasan Desa Banyusoco berupa tebaran perbukitan. Mata air yang menjadi harapan warga berada pada tebing sungai Oya di bawah lembah. Sementara pemukiman berada pada permukaan bukit dengan jarak ketinggian yang tidak main-main dari sungai. Masalah kedua, jarak mata air di sungai dengan pemukiman juga tak main-main, hingga satu kilometeran lebih. Jadi, untuk bisa sampai pemukiman, air harus mendaki elevasi alias kemiringan yang ekstrim sekaligus melalui pipa-pipa berpuluh meter. Tak heran jika hanya beberapa gelintir warga saja yang meyakini mimpi besar ini.

Tapi masalah yang juga berat adalah, kondisi ekonomi keluarga Damanhuri sendiri tergolong lemah alias miskin kala itu. Bahkan rumah bapak dua anak ini hanya berdinding papan. “ Jadi, siapa sih yang percaya dengan mimpi saya menaikkan air wong kondisi ekonomi saya sendiri juga pas-pasan. Mana ada orang miskin dan lulusan SMP bisa mengalirkan air untuk satu desa?” kenangnya. Tapi Damanhuri dan pasukan kecilnya tak menyerah.

Siang malam mereka mengukur jalur, menggali bebatuan dan mengukur kekuatan mesin pompa. Tengah malam, orang-orang ini berkeliaran di hutan jati di pinggiran desa. Asal Anda tahu, Banyusoco adalah desa di tengah kepungan hutan jati milik Perhutani. Jalan utama masuk desa ini harus melewati satu kilometer hutan tanpa pemukiman sama sekali. Percayalah, suasana malam di desa ini jauh lebih horor ketimbang desa yang digambarkan dalam cerita KKN Desa Penari.

Jadi, para pejuang air ini tak hanya bisa mengandalkan tubuh yang kuat untuk naik-turun bukit bersemak-semak. Melainkan harus pula lolos uji nyali alias tak gentar bertemu dengan aneka jenis dedemit yang konon banyak bersemayam di hutan jati.

Suatu saat, setelah jalur air selesai digali, mereka harus segera mendapatkan pipa-pipa air. Masalahnya, beberapa orang ini memiliki kondisi yang sama: miskin! Padahal butuh biaya beberapa juta untuk mendapatkan mesin pompa dan ratusan meter pipa air. “ Saya meminta tolong dengan mendatangi sembilan warga untuk meminta bantuan biaya beli pipa air dan tak satupun sudi memberi dukungan dana,” ujar Damanhuri. Damanhuri bingung, pasukannya juga tak tahu harus berbuat apa.

Layar telah terkembang, menyerah adalah pantangan. Damanhuri nekat, dia pergi ke bank, menggadai beberapa BPKP motor miliknya demi mendapat uang untuk membeli pipa air. Padahal, BPKB itu selama ini sesungguhnya disimpannya erat-erat untuk berjaga membayar biaya sekolah anak-anak. “ Sebenarnya sangat berat, tapi bagaimana lagi. Saya hanya yakin bahwa niat baik akan menemukan jalannya,” ujar lelaki berusia lebih dari setengah abad ini.

Esoknya, hilir mudik Damanhuri mengusung pipa-pipa. Ironisnya, Damanhuri juga harus membawa sendiri lonjoran pipa-pipa air itu sendiri. Jadi, setiap kali beli pipa, tangan kirinya mendekap pipa dan tangan kanannya memegang kemudi motor, turun naik di atas jalanan berbatu. Hingga akhirnya, perjuangan berat Damanhuri Cs membuahkan hasil.

Suatu hari, setelah pipa-pipa tersambung, mesin pompa air sudah terpasang, Damanhuri Cs menjajal hasil kerja mereka dan..berhasil! Ya, air dari mata air di bawah lembah itu terdorong pompa, merambati puluhan meter pipa, masuk ke bak penampungan bantuan pemerintah yang selama bertahun-tahun mangkrak. Mesin pompa dinyalakan dan..Byur! Air dari mata air berjarak satu kilometer dengan jalur mendaki bukit itu benar-benar muncrat melalui kran di tengah pemukiman. Eureka, selamat tinggal kekeringan!

Baca Juga : Menjaga Kelestarian Bumi, SD Negeri Balirejo Gaungkan Sekolah Zero Waste

Sejak itu warga tak perlu lagi menguras keringat turun naik bukit demi mendapat air bersih. Dalam beberapa minggu, puluhan warga menemui Damanhuri. Mereka minta agar rumah mereka dipasangi instalasi. Satu dua rumah, sepuluh dan terus bertambah. Peserta antrian termasuk orang-orang yang dulu mencibir dan meragukan kehebatan tim ini. Banyusoco memasuki era baru.

Dibalik perjuangan panjang nan melelahkan itulah seorang Damanhuri membuktikan, kerja keras selalu menghasilkan prestasi gemilang. Ternyata, tak harus seorang insinyur untuk bisa menciptakan sistem pengelolaan air bersih, tak harus pula menunggu pemerintah beraksi. Damanhuri dan pasukan kecilnya yang hanya lulus SD dan SMP itu membuktikan, mereka bisa melakukan hal yang bahkan tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Sejak itu, Banyusoco banyak didatangi rombongan tamu dari desa-desa di seluruh penjuru nusantara. Mereka datang ke Banyusoco untuk belajar, cara membangun sendiri instalasi air bersih, cara mengukur kekuatan pipa, cara membuat jalur pipa menuju pemukiman dan tak kalah penting, cara pengorganisasian warga desa agar air selalu mengalir lancar dan merata bagi semua orang. “ Mungkin itu yang membuat saya lalu disebut Guru Banyu. Ah, tak pentinglah sebutan itu, yang penting warga desa bisa mandi dua kali sehari, bisa masak tanpa perlu pergi ke kali,” kata Sang Guru Banyu yang kini menjadi kepala desa ini. (adji)

2 Comments
  1. […] Baca juga:Damanhuri Si Guru Banyu, Rela Gadai Barang Berharganya Demi Air Untuk Warga […]

  2. […] Baca juga: Damanhuri, Si Guru Banyu, Rela Gadai Barang Berharga Demi Air untuk Warga […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.