Berita Nasional Terpercaya

Benarkah Madu Lebih Sehat Ketimbang Gula Pasir?

1

BERNAS.ID – Gula pasir dan madu adalah sumber gula dan pemanis baik untuk makanan maupun minuman. Namun, gula pasir nampak tak pernah ketinggalan sebagai salah satu kebutuhan dapur. 

Sementara, hanya sebagian orang yang menyediakan madu di rumah. Mereka memilih pemanis tersebut sebagai pengganti gula pasir karena yakin itu lebih sehat. Tapi benarkah demikian? 

Sebenarnya makan berlebihan gula tambahan, termasuk madu, dapat menimbulkan risiko kesehatan. Gula kerap jadi pemicu sejumlah masalah kesehatan, termasuk obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan masalah kognitif seperti demensia dan Alzheimer.

Baca Juga: Mitos Atau Fakta: Nasi Putih Menyebabkan Diabetes

Meski demikian, mana yang lebih baik untuk kesehatan?

Kandungan Gula dan Madu

Melansir dari Healthline, gula merupakan kombinasi glukosa dan fruktosa, yang terikat bersama membentuk sukrosa. Tidak ada vitamin dan nutrisi di dalamnya.

Gula pasir terbuat dari tanaman tebu yang membutuhkan pemrosesan sebelum menjadi gula yang kita konsumsi sehari-hari. Gula yang masih mentah biasanya berwarna coklat muda dengan kristal yang lebih besar.

Lebah menghasilkan madu dengan cara mengumpulkan nektar dari bunga. Zat kental ini biasanya berbentuk agak cair. Warnanya bervariasi dari kuning pucat hingga coklat tua.

Pemanis tersebut terdiri dari air, fruktosa, dan glukosa, serta mineral seperti magnesium dan potasium. Selain itu, pemanis tersebut juga mengandung enzim, vitamin C, asam amino, vitamin B, dan antioksidan.

Gula Pasir

Mengutip Medical News Today, ada beberapa keunggulan dari gula pasir sebagai pemanis:

  • Kandungan kalori yang lebih rendah. Satu sendok makan gula mengandung 49 kalori, artinya lebih rendah ketimbang madu yang menghasilkan 64 kalori.
  • Dari sisi harga, pemanis satu ini juga lebih murah
  • Gula pasir lebih mudah ditemukan
  • Umur simpan lama.

Gula pasir juga membuat banyak makanan lebih terasa enak, baik memasak maupun memanggang. Meski demikian, gula bisa menaikkan tingkat glukosa lebih cepat ketimbang madu.

Harganya yang lebih murah membuat pemanis ini bisa kita temukan di berbagai makanan dan minuman yang diproses. Dengan demikian, Anda mungkin tidak sadar telah banyak mengonsumsi gula sehingga menyebabkan kenaikan berat badan bahkan hingga obesitas.

Baca Juga: Waspada! Ini Yang Terjadi Jika Kebanyakan Makan Garam

Padahal menurut Permenkes No.30 Tahun 2013, anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 10% dari total energi (200 kkal). Artinya, dalam sehari kita boleh mengonsumsi gula maksimal 50 gram atau 4 sendok makan.

Orang dengan penyakit kencing manis harus memperhatikan konsumsi gula karena dapat menaikkan gula darah dalam tubuh dengan cepat. Jika  jumlah yang masuk lebih besar dari kebutuhan tubuh makan dapat memberikan “ledakan bahan bakar” yang cepat, kemudian berlanjut dengan penurunan energi yang tajam.

Gula juga lebih sulit dicerna daripada madu karena tidak mengandung enzim. Selain menyebabkan kegemukan, makan gula terlalu banyak bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2. 

Madu

Meski sama-sama mengandung fruktosa dan glukosa, fruktosa pada madu lebih manis daripada glukosanya. Jadi Anda dapat menggunakan sedikit madu pada makanan dan minuman untuk menghasilkan rasa manis.

Ada sejumlah keunggulan dari pemanis satu ini, seperti:

  • Mengandung vitamin dan mineral
  • Meredakan batuk pada anak-anak
  • Mudah dicerna 
  • Bantu meringankan alergi
  • Madu melewati proses yang lebih sedikit ketimbang gula

Madu memang mengandung vitamin dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan. Namun jumlahnya sangat kecil. Di sisi lain, harganya yang mahal kerap membuat orang memilih gula sebagai pemanis.

Mengutip BBC Good Food, madu telah digunakan sebagai antiseptik selama bertahun-tahun karena diyakini dapat mempercepat penyembuhan pada luka ringan, bisul, dan luka bakar.

Pemanis satu ini dapat menyerap air pada luka dan mengeringkannya sehingga menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Madu yang warnanya lebih gelap kaya akan senyawa kimia seperti flavonoid. 

Baca Juga: Mengenal Seluk Beluk Vegetarian, Gaya Hidup RA Kartini 

Seperti kita ketahui, flavonoid memiliki sifat antibakteri, antivirus, anti-inflamasi, dan anti-alergi. Walau punya banyak keunggulan ketimbang gula pasir, tapi madu mengandung kalori lebih banyak ketimbang gula.

Anda tetap harus memperhatikan konsumsi madu apalagi bagi penderita kencing manis. Anda tidak bisa serta merta mengganti gula dengan madu karena keduanya akan mempengaruhi kadar gula darah.

Jadi mana yang lebih sehat, madu atau gula pasir? Konsumsi yang berlebihan terhadap keduanya sama-sama menimbulkan risiko bagi kesehatan, seperti:

  • Penambahan berat badan
  • Pemicu berbagai penyakit
  • Meningkatkan gula darah
  • Menimbulkan kerusakan gigi

Dengan demikian, perlu pertimbangan agar kedua produk tersebut Anda konsumsi dalam jumlah sedang atau bahkan tidak sama sekali. Meski pemanis tersebut punya banyak manfaat, tapi dapat menyebabkan respons batuk atau alergi terhadap individu tertentu.

Jika Anda mempertimbangkan penggunaan madu, pilih varietas yang berwarna gelap dan masih mentah. Tapi yang terpenting adalah mengubah kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman manis.

Anda bisa memulainya dengan mengurangi jumlah pemanis yang Anda gunakan dalam secangkir kopi atau teh, dan berbagai makanan. Jangan lupa selalu konsumsi makanan sehat yang seimbang.

1 Comment
  1. […] Baca Juga: Benarkah Madu Lebih Sehat Ketimbang Gula Pasir? […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.