Berita Nasional Terpercaya

Sekolah Air, Tempat Para Pejuang Air Mendorong Gerakan Merdeka Air Bersih Bagi Semua Orang

0

Komunitas ini bergerak dalam sunyi, mengurus kebutuhan dasar semua orang yakni menyediakan air bersih bagi semua orang. Mereka mendirikan Sekolah Air, lembaga pelatihan pengelolaan air bersih bagi kawasan yang belum terjangkau layanan air bersih. Mereka sangat gigih, menyibak semak belukar, mengukur ketinggian perbukitan, bahkan meski kegiatan mereka tidak membuat mereka terkenal. Berikut ini liputan Bernas.id merangkum kegiatan mereka.

Sekilas Prihatin Sri Wahyuni tak ubahnya ibu rumah tangga yang lain. Setiap hari mengurus dua anaknya yang menginjak remaja. Setiap hari berpakaian rapat berjilbab. Tetapi jangan salah, begitu di lapangan, ibu dua anak yang tinggal di Pandak, Bantul, Yogyakarta ini tidak akan ragu masuk ke goa yang ukurannya hanya cukup untuk tubuhnya saja. Ia hanya berpegangan tali, menuruni tangga besi berkarat bahkan kadang harus merangkak, demi melihat sumber air yang akan disalurkan untuk warga.

Di kali yang lain, Sri Wahyuni berdiri di depan papan tulis, mengajarkan berbagai cara dan strategi mengenai bagaimana air yang tersimpan di dalam perut bumi perbukitan desa-desa terpencil bisa mengalir melalui pipa ke rumah-rumah warga yang berpencaran. Suaranay yang kecil melengking tinggi menyemangati peserta pelatihan yang rata-rata adalah bapak-bapak berusia 50-an tahun. “ Saya jatuh cinta pada pekerjaan ini karena air adalah kebutuhan dasar. Sungguh menyenangkan bisa membuat warga desa terpencil mendapatkan air bersih dengan lebih mudah,” ujar perempuan yang sudah berkeliling banyak wilayah Indonesia demi air bersih ini.

Erina Cahyaningsih, perempuan berusia 35  tahun, adalah sosok dengan gaya berbeda tapi punya semangat yang tak kalah membara. Tutur katanya lembut dan dengan wajah keibuan. Tapi begitu panggilan tugas datang, ibu satu anak ini dengan gesit menyetir mobil sendiri, baik turun jalur berbatu menuju desa demi menemui kelompok warga pengelola air bersih.

Baca juga: Damanhuri, Si Guru Banyu, Rela Gadai Barang Berharga Demi Air untuk Warga

Ijazah sarjana hukum membuat Erina memiliki tugas menjelaskan berbagai aspek hukum dalam gerakan komunitas air, mulai dari legalitas hingga berbagai kebutuhan pendanaan. Erina bertugas mengarahkan bagaimana komunitas air menggali berbagai masalah kelembagaan, agar komunitas air bisa bekerjasama dengan berbagai lembaga lain termasuk pemerintah desa tentusaja.

Yuni, sapaan Prihatin Sri Wahyuni dan Erina adalah dua Srikandi Air yang tergabung dalam Sekolah Air. Apa itu Sekolah Air? Ini adalah lembaga pelatihan manajemen pengelolaan air bersih bagi kelompok masyarakat dan komunitas-komunitas yang selama ini belum mendapatkan layanan ketersediaan air bersih. Sekolah Air mengajari cara agar warga bisa mendapatkan air bersih dengan cara mandiri.

Mulai dari bagaimana mencari mata air, menghitung kapasitas sumber air, mengukur jarak dan ketinggian untuk menentukan alat yang harus digunakan, menghitung biaya pemasangan instalasi termasuk berapa biaya yang dibutuhkan. Sekolah Air juga mengajarkan cara komunitas membangun struktur pengelola, apa saja tugas para pengurus air bersih hingga menentukan tarif bagi warga yang menggunakan jasa penyediaan air bersih. Apakah ini tidak bersaing dengan program air bersih dari pemerintah?

“ Tidak sama sekali. Kami melengkapi program pemerintah. Sebab, belum seluruh kawasan di Indonesia ini yang telah merdeka air bersih,” ujar Unggul Adri, 38 tahun, sang Kepala Sekolah. Unggul, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, ini mengaku jatuh cinta pada urusan air bersih sejak mahasiswa.

Saat itu Unggul dan tim-nya menjalankan program penyediaan air bersih bagi sebuah desa di daerah Gunungkidul yang dikenal sebagai kawasan kering. Dalam hanya beberapa minggu, warga desa itu kemudian berhasil mendapatkan layanan air bersih berkat kinerja para mahasiswa kala itu. “ Sejak itu saya dan teman-teman aktif mendorong penyediaan air bersih untuk warga,” kata Unggul.

Unggul menjelaskan, Sekolah Air merancang kurikulum pelatihan dengan model studi kasus. Artinya, dalam satu kali pelatihan, Tim Sekolah Air akan mengumpulkan berbagai persoalan yang dihadapi peserta dalam komunitas air yang dikelolanya. “ Lalu satu persatu akan kami analisa dan berikan treatment untk mengatasi masalah,” ujar Unggul.

Tak cukup disitu, Sekolah Air juga akan terus memantau perkembangan masing-masing komunitas dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. “ Jadi, seluruh peserta kami pindai satu persatu masalahnya, kami analisa bersama lalu kami lahirkan solusi. Paska pelatihan kami terus pantau untuk memastikan masalah-masalah itu teratasi. Kami bahkan mencatat setiap masalah komunitas dengan cara mirip para dokter mencatat Rekam Medis pasiennya,” jela Unggul.

Dengan cara ini maka Sekolah Air akan memberikan langkah yang konkrit bagi setiap pelatihan yang digelar. “ Kami tak mau pelatihan hanya sekedar teori. Makanya kami buat layanan konsultasi paska pelatihan hingga masalah-masalah komunitas air teratasi,” tambahnya. Bahkan, para pengajar di Sekolah Air juga memiliki kajian kapasitas. “ Pelatihan kami bukan sekedar pelatihan yang materinya diulang-ulang. Melainkan terus bergerak sesuai kebutuhan komunitas di lapangan.” katanya.

Tahun 2022 ini Sekolah Air telah menggelar Pelatihan di Kulonprogo dan Bantul. Sebenarnya, Sekolah Air telah menjadwalkan pelatihan reguler sebulan sekali di beberapa tempat yakni desa yang telah memiliki pengelolaan yang baik. Desa-desa tempat pelatihan itu juga desa yang awalnya peserta pelatihan di Sekolah Air ini. Sehingga selain mendapatkan materi di dalam kelas, para peserta juga bisa melihat langsung bagaimana pengelolaan air di desa itu dilaksanakan.

Jangan bayangkan pelatihan dilakukan di ruangan mewah hotel berbintang. Pelatihan yang digelar Sekolah Air biasanya bertempat di salahsatu rumah warga atau balai pertemuan desa. Para peserta umumnya adalah orang-orang berusia 50-an tahun. Kok bisa? Sebab wacana penyediaan air bersih di desa-desa masih belum dianggap sebuah kegiatan penting yang seharusnya dikelola anak-anak muda. “ Kami masih terus berjuang agar anak-anak muda di pedesaan khususnya menyadari pentingnya penyediaan air bagi keluarga mereka,” kata Unggul.

Lagipula, sistem pengelolaan air bersih ini juga bukan kegiatan sosial semata melainkan memiliki kemampuan membayar para pengelola jika sudah berjalan. Jadi, mengelola air bersih untuk warga bisa menjadi pekerjaan bagi anak-anak muda di desa, sembari menciptakan kebaikan bersama karena telah menyediakan air bagi warganya. Siapa sih yang tidak butuh air? (adji)

Leave A Reply

Your email address will not be published.