Berita Nasional Terpercaya

Mengenal 7 Jenis Tradisi Unik di Papua

1

Bernas.id – Papua adalah salah satu wilayah yang terletak di ujung timur Indonesia dan merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia. Bahkan, Papua menjadi pulau terbesar kedua setelah Greenland.

Selain terkenal akan objek wisata dan burung cendrawasihnya, Papua juga terkenal dengan Taman Nasional Wasur yang memiliki sabana Indah juga Taman Nasional Lorentz yang memiliki banyak tanaman langka. 

Selain itu, Papua juga memiliki budaya terbesar di Asia Tenggara. Ada ratusan suku yang mendiami wilayah Papua seperti Suku Asmat, Huli, Korowai, Dani, Amungme, Bauzi, Muyu, dan masih banyak lagi.

Dari banyaknya suku yang berada di wilayah Papua, mereka memiliki tradisi uniik yang belum pernah kita dengar sebelumnya.

Tradisi Unik di Papua

Ada beberapa tradisi unik di Papua yang jarang diketahui oleh orang. Berikut beberapa tradisi unik di Papua:

1. Bakar Batu atau barapen

Bakar batu atau barapen adalah tradisi unik yang dilakukan sebagai simbol rasa persaudaraan dan rasa syukur. Tradisi ini juga bisa dilakukan saat upacara kematian. Barapen merupakan salah satu tradisi tertua di Papua.

Dalam tradisi ini, masyarakat akan membuat lubang dan menutupinya dengan dedaunan posang. Setelah itu, di atas daun pisang mereka akan menyusun batu lalu membakar kayu di atasnya. Setelah itu, kayu yang dibakar tersebut akan ditutup dengan batu berukuran kecil.

Proses pembakaran dilakukan sampai batu berubah menjadi panas. Kemudian mereka akan menaruh makanan di atas batu yang panas itu agar matang. Makanan bisa berupa ubi, sayuran, daging babi, dan sejenisnya. Setelah itu, mereka akan melanjutkannya dengan makan bersama.

2. Potong Jari atau Iki Palek

Bayangkan jika jarimu tidak teriris pisau? Pasti sakit sekali buka. Nah, apalagi ketika jari terpotong rasa sakitnya pasti berkali-kali lipat. Nah, di Papua ada, loh, tradisi potong jari atau yang biasa disebut Iki Palek.

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat dari Suku Dani ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Bagi Suku Dani, kebersamaan adalah hal yang penting. Jadi, menangis saja tidak cukup untuk menunjukan rasa kehilangan akan saudara yang meninggal. 

Rasa sakit akibat memotong jari dianggap sebagai simbol hati yang tercabik-cabik akibat ditinggal oleh keluarga. Biasanya, tradisi potong jari ini dilakukan setelah upacara pemakaman selesa. Jumlah jari yang terpotong menunjukan berapa banyak keluarga yang meninggal.

3. Tradisi Injak Piring atau Mansorandak

Tradisi ini dilakukan oleh Suku Biak di Teluk Doreri, Manokwari, Papua Barat. Injak Piring dilakukan untuk menyambut saudara yang baru saja kembali dari perantauan. Saat melakukan tradisi ini, orang yang baru pulang dari merantau harus mandi kembang di atas piring adat.

Setelah itu, mereka masuk ke ruangan bersama keluarga besar dan mengitari sembilan piring adat sebanyak sembilan kali. Angka sembilang dianggap sebagai lambang dari marga suku Doreri di Manokwari. Oleh karena itu, jumlah piring adat harus sembilan buah dan jumlah putaran harus sembilan kali.

Setelah itu, orang yang merantau harus menginjak replika buaya sebagai lambang cobaan dan rintangan dalam hidup. Kemudian mereka semua akan makan bersama. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud syukur atas kepulangan anggota keluarga sekaligus membersihkan roh-roh jahat yang menempel selama di perantauan. Tradisi injak piring juga sering dilakukan untuk menyambut tamu negara sebagai wujud syukur masyarakat atas kunjungan mereka.

Anda juga bisa membaca artikel berjudul Melihat Papua Saat Pepera 1969 untuk mengetahui Papua lebih dalam.

4. Tifa darah

Tifa darah adalah alat musik tradisional dari Papua yang terbuat dari kulit biawak. Uniknya, bahan yang dipakai untuk menempelkan kulit biawak ke ujung gendang kayu adalah darah pembuatnya. Tradisi ini dilakukan oleh Suku Kamora. Mereka memakai darah yang berasal dari paha mereka sendiri sebagai perekat kulit biawak ke gendang kayu. Untuk mengeluarkan darah dari paha, mereka biasanya melukai paha dengan silet.

5. Tradisi Mumi Papua

Mumi adalah jenazah yang diawetkan dengan teknik pembalseman sehingga bentuk awalnya terjaga. Tradisi semacam ini biasanya kita kenal di negara Mesir. Tapi, siapa yang menyangka Indonesia juga punya tradisi sejenis. Tradisi musi dilakukan oleh Suku Dani di Papua.

Mereka membalsem mayat tokoh adat yang meninggal. Untuk menjadikan mumi, Suku Dani melakukan penjemuran dan pengeringan jenazah di dalam goa. setelah itu, jenazah ditusuk dengan tulang babi dan ditaruh di atas perapian.

Suku Mek di Papua juga melakukan tradisi serupa. Namun, mereka mengawetkan mayat dengan meletakkannya di atas pohon selama bertahun-tahun hingga menjadi mumi secara alami.

Anda juga bisa membaca artikel berjudul Kaimana: Dari Majapahit Hingga Genggaman Belanda untuk mengetahui lebih dalam tentang Papua.

6. Tradisi ararem

Tradisi ararem adalah tradisi mengantar hantaran atau mas kawin dari seorang pria kepada keluarga calon mempelai wanita. Tradisi ini dilakukan oleh Suku Biak di Papua. Dalam tradisi ini, mas kawin akan diantar dengan berjalan kaki beramai-ramai atau menggunakan arak-arakan disertai nyanyian dan tarian. 

Saat melakukan arak-arakan tersebut, keluarga calon mempelai pria harus membawa berbagai macam barang, salah satunya piring gantung. Saat proses arak-arakan, mereka juga harus menarikan tarian Wor. Tarian Wor merupakan tarian religius yang diiringi dengan alat musik bernama tifa. Besarnya mas kawin yang diberikan ditentukan oleh keluarga calon mempelai wanita. Tradisi ini merupakan hal yang sangat penting bagi mereka yang akan menikah karena menjadi simbol konsekuensi dan komitmen dari sebuah pernikahan.

7. Festival Lembah Baliem

Festival Lembah Baliem adalah festival mengadu kekuatan tiga suku besar di Papua. Festival ini melambangkan kesuburan. Meski identik dengan unsur kekerasan, namun pelaksanaan festival ini dilakukan dengan skenario khusus untuk memicu perang sehingga tetap asyik untuk dinikmati.

Festival ini diadakan oleh pemerintah kabupaten Jayawijaya. Tujuan festival adalah untuk melestarikan nilai budaya Suku Asmat. Festival ini biasanya diadakan setiap bulan Oktober atau Agustus. Saat festival berlangsung, kalian bisa menyaksikan berbagai atraksi perang, tarian, lelang patung, musik tradisional, tarian, hingga demo membuat ukiran pantung. 

Besarnya mas kawin yang diberikan ditentukan oleh keluarga calon mempelai wanita. Tradisi ini merupakan hal yang sangat penting bagi mereka yang akan menikah karena menjadi simbol konsekuensi dan komitmen dari sebuah pernikahan.

Nah, itulah macam-macam tradisi unik di Papua. Tak hanya kaya dengan sumber daya alam, Papua juga kaya akan budayanya. Sejarah Papua juga penuh dengan cerita unik. Penduduk purba kita diyakini telah tiba di Papua Nugini sekitar 50-60.000 tahun yang lalu.

Mereka tiba dari Asia Tenggara selama periode Zaman Es ketika laut lebih rendah dan jarak antar pulau lebih pendek. Papua adalah salah satu daratan pertama setelah Afrika dan Eurasia yang dihuni oleh manusia modern. Untuk mengetahui cerita lengkap mengenai sejarah Papua, Anda bisa membaca artikel berjudul Kisah Papua: Dari Zaman Prasejarah Hingga Tangan Belanda.

1 Comment
  1. […] Baca Juga : Mengenal 7 Jenis Tradisi Unik Di Papua […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.