Berita Nasional Terpercaya

Pasien cacat karena salah memilih Rumah Sakit

0

Social Experiment: Benarkah layanan RS terpengaruh apakah mereka melayani pasien BPJS atau tidak?

Himbauan Presiden Jokowi agar industri kesehatan Indonesia bisa menciptakan Rumah Sakit yang pelayanannya setara dengan di luar negeri, agar masyarakat Indonesia tidak berobat di luar negeri haruslah disambut dengan baik. Mudah-mudahan kisah di bawah ini bisa menjadi introspeksi kita semua.

Bahwa layanan yang baik itu tidak hanya tercipta dari gedung yang mewah, bersih dengan alat diagnostik yang canggih-canggih. Sangat berperan SDM di dalamnya dan bagaimana RS bisa mengeliminer faktor-faktor yang mengahalanginya.

Selama ini, saya berasumsi bahwa penyebab banyaknya keluhan pasien Indonesia saat berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes: dokter mandiri, klinik, rumah sakit, dan lainnya) di Indonesia adalah karena fasyankes tersebut masih menggabungkan pelayanan pasien BPJS dan non BPJS.

Meskipun ada pihak yang tidak setuju tapi sudah bukan rahasia lagi pasien-pasien BPJS jumlah tidak sedikit dengan fee (dokter, perawat dan fasyankes) yang tidak sebanding.

Sebagai dokter yang praktek di fasyankes tersebut, tentu tidak bisa memberikan layanan yang optimal jika pasien yang akan diperiksa begitu banyak. Sangat tidak adil rasanya membandingkan dengan pelayanan kesehatan di luar negeri, dimana tenaga medisnya tidak perlu diburu-buru dalam melayani.

Dokter bisa sepenuhnya mengembangkan profesionalitasnya. Seperti kata Pak Menkes baru-baru ini, kalau ada teknologi hightech (daripada Stetoskop), kenapa tidak menggunakannya.

Akibat salah memilih Rumah Sakit

Pengalaman kami di bawah ini menguatkan asumsi kami tersebut, meskipun -sedihnya- harus mengalami sendiri.

Karena tidak ingin mengalami pelayanan ala BPJS, kami sengaja berobat ke dokter diluar pelayanan BPJS, yaitu pada hari Sabtu.

Pada hari tersebut sang Dokter hanya melayani pasien-pasien swasta. Pasien BPJS dilayani pada hari Senin hingga Jumat. Biaya berobat dan tindakan pun disesuaikan tentunya, sekitar 1 hingga 2 juta rupiah per kunjungan.

Kami berharap  layanan kesehatan yang kami terima tentu bisa berbeda dengan saat kami menggunakan fasilitas BPJS.

Ternyata tidak. Mulai dari perawat yang memperlakukan kami layaknya pasien BPJS (menyelak antrian dan masih berargumentasi mencari pembenaran), hingga dokter yang meskipun melayani dengan ramah (mungkin karena sudah mendengar kami berargumentasi dengan perawat di luar kamar prakteknya), tapi sayangnya diagnosis yang diberikan masih keliru dan kami tidak diberitahu what’s next.

Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

Sepengetahuan saya jika seorang dokter masih belum bisa menentukan diagnosis suatu penyakit, dia wajib menentukan apa yang disebut Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding.

Selayaknya hal ini perlu diinfo juga ke pasien, misalnya, jika dalam 1 minggu (atau beberapa hari) belum ada perbaikan, datang kembali ke sini, kita lihat kemungkinan lain.

Penjelasan ini tidak kami terima dari dokter apalagi dari perawat, sehingga kondisi golden period (masa di mana penyakit bisa sembuh seperti sediakala tanpa kecacadan) penyakit jadi terlewat begitu saja. Hal ini baru kami ketahui saat periksa ke dokter di RS lain dalam rangka mencari second opinion.

Saat menebus obat pun, meskipun di ruangan farmasi fasyankes tersebut pasien yang menunggu masih sedikit (mungkin hanya kami), dan karena masih pagi hari (sekitar pkl 9:00) dan pada Hari Sabtu tidak ada layanan BPJS, tetapi kami harus menunggu untuk memperoleh obat (bukan racikan), lebih dari 1 jam.

Karena tidak puas dengan pelayanan dari RS pertama (tidak ada perubahan setelah seminggu tanpa diberi tahu harus ngapain), kami mencari RS yang tidak menerima pasien BPJS dengan biaya per kunjungan (konsul dan tindakan) sekitar 2 – 3 juta rupiah.

Pengalaman di RS non BPJS

Untungnya di RS yang kedua yang hanya menerima pasien non BPJS (RSnya tidak terikat kontrak dengan BPJS), pelayanan cukup ramah kami alami baik dari perawat hingga dokternya. Perawatnya cekatan dan tahu memperlakukan pasien sebagai seorang customer.

Dari sisi customer/pasien

Dengan biaya yang mungkin sama atau lebih mahal daripada berobat ke luar negeri, pasien Indonesia non BPJS mengharapkan pelayanan Rumah Sakit:

  • diagnosis / penyebab penyakit bisa ditegakkan sekaligus diterapi secara baik
  • dokter, perawat, petugas farmasi, petugas lab, kasir, dll. melayani dengan ramah dan tidak terburu-buru
  • pemberian obat seminimal mungkin, bukan dalam hal biaya (meskipun itu juga penting) tapi lebih ke arah interaksi obat dan keamanan saat mengkonsumsinya
  • diperiksa sesuai dengan jadwal waktu perjanjian
  • bisa diberikan rencana pengobatan dan estimasi biayanya

Pasien tidak peduli jika:

  • dokternya dalam perjalanan ke ruang praktek ada kemacetan
  • dokternya ada meeting
  • suster dan dokter harus melengkapi form-form untuk akreditasi
 

Kesimpulan

Berbicara mengenai SDM, manusia (apapun profesi dan jabatannya) bukanlah robot yang dengan cepat bisa meng-switch perilaku dan kebiasaannya. Jika RS ingin melayani pasien VIP lakukanlah itu tanpa mencampur dengan pelayanan terhadap pasien BPJS.

Partisipasi dari RS tersebut (seandainya ditanya) kepada bangsa dan negara tercinta bisa dipikirkan dalam bentuk lain selain turut membuka layanan untuk pasien-pasien BPJS, seperti yang selalu dianjurkan Presiden Jokowi saat membuka Rumah Sakit bertaraf internasional.

Dari pengalaman di atas, lebih meyakinkan kami bahwa sebenarnya pelayanan Rumah Sakit di Indonesia, tidak jelek-jelek amat asalkan kita bisa memilih Rumah Sakit yang tepat.

Sesuai dengan pengalaman saya di atas, anjuran saya carilah Rumah Sakit yang tidak melayani pasien BPJS. Sayangnya pada kasus kami, golden period pengobatan anggota keluarga kami sudah terlewatkan sehingga meninggalkan kecacadan. Suatu pengalaman yang sangat mahal.

Mungkin bagi dokter, kami hanyalah salah satu pasien tapi bagi kami kegagalan pengobatan hingga menimbulkan kecacatan akan membekas seumur hidup.

Sehat selalu,

(Dr. Erik Tapan, MHA

Pengamat Perumahsakitan)

 

Tanggapan artikel di atas, bisa dibaca di sini:

Tanggapan tulisan Pasien Cacat karena salah memilih Rumah Sakit

 

Artikel yang berhubungan:

  1. https://www.bernas.id/2024/05/175780/bermanfaatkah-proses-akreditasi-pelayanan-kesehatan/
  2. https://www.bernas.id/2024/05/175824/tanggapan-tentang-bermanfaatkah-proses-akreditasi-pada-layanan-kesehatan-di-indonesia/
Leave A Reply

Your email address will not be published.