Alexa Certify
close
  • Bernas.id

Kisah Debbie, Jalankan Misi Sosial untuk Bantu Pengusaha Mikro Lewat INAmikro

Kisah Debbie, Jalankan Misi Sosial untuk Bantu Pengusaha Mikro Lewat INAmikro

Bernas.id- Pasar Rakyat memiliki peranan penting dalam  perekonomian nasional. Pasar Rakyat juga merupakan wadah bagi kegiatan masyarakat dalam melakukan perdagangan yang bertujuan sebagai pondasi dasar perekonomian suatu wilayah.

Melihat peran penting Pasar Rakyat dalam perekonomian bangsa, Debbie R. Sianturi, menginisiasi adanya “Program Pemberdayaan & Digitalisasi Pedagang Mikro di Pasar Rakyat & Sektor Mikro Lainnya”.

Dengan program bertajuk INAmikro, Debbie berniat untuk memberdayakan dan menaik-kelaskan pedagang mikro di pasar rakyat pada masa Pandemi Covid-19 ini. Lalu bagaimana kisah Debbie membangun INAmikro yang merupakan singkatan dari Indonesia Mikro? Berikut kisahnya:

Mimpi Lama yang Perlahan Terwujud

Dalam sebuah sesi interview, Debbie mengaku  INAmikro merupakan mimpi lamanya.

“INAmikro ini sebenarnya mimpi lama saya. Saya ingin menolong orang yang sedang susah secara perekonomian, tapi menggunakan teknologi,” tambahnya. Saya selalu tersentuh dengan lirik lagu “Give Thanks” oleh Don Moen yang menuliskan: 

“And now,  Let the weak say, I am strong, And the poor say I am rich, Because of what the Lord has done for us”

Debbie juga terinspirasi oleh gerakan Grameen Bank di Bangladesh yang diprakarsai oleh Muhammad Yunus, pemenang hadiah Nobel di bidang Perdamaian tahun 2006.

"Bagi saya segala usaha yang untuk memperbaiki nasib dan kehidupan suatu kelompok besar di masyarakat adalah usaha yang mulia dan menginspirasi," tambah Debbie.

Setelah menghabiskan banyak waktu untuk tinggal di luar negeri selama 12 tahun dan keluarga Debbie dipanggil pulang untuk kembali ke Indonesia. Momen kembalinya ke Indonesia inilah menjadi titik awal Debbie untuk mulai mewujudkan impiannya.

“Setelah kembali ke Indonesia, saya bertemu dengan pebisnis Sandiaga Uno tahun 2015 (waktu itu sebagai WKU KADIN Indonesia - Bidang UMKM & Koperasi), yang kini menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ,” ucapnya.

Dari pertemuan itu, Debbie dan Sandiaga Uno pun membicarakan banyak hal tentang profil usaha di Indonesia dan diajak bergabung sebagai Wakil Ketua Komite Tetap untuk Akses Permodalan untuk Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di bidang UMKM & Koperasi,” tambahnya.

Ketika bergabung dalam KADIN Indonesia bidang UMKM & Koperasi tersebut, Debbie melihat ada lima masalah spesifik (pain points) yang dimiliki oleh sektor UMKM di Indonesia. Masalah spesifik tersebut antara lain:

  • Kurangnya Literasi Keuangan, Literasi Digital, Literasi Perlindungan Usaha
  • Kurangnya Akses ke Permodalan atau pinjaman perbankan (suku bunga tinggi untuk pinjaman) – masalah agunan, kerumitan administrasi perbankan saat mengajukan pinjaman mikro.
  • Kurangnya Akses Teknologi & Inovasi
  • Kurangnya Literasi ke Pasar yang Lebih Besar: toko online, e-commerce, e-logistik, e-ekspor dll.
  • Kurangnya Literasi ke Promosi, Jejaring, Pemahaman Hukum dan Ijin usaha.

“Padahal, Pasar Rakyat dan usaha mikro di Indonesia ini punya profil bisnis yang bagus dan berhasil menyumbang 97-99% penciptaan lapangan kerja di Indonesia,” tambah dia.

Meski ada segelintir pelaku UMKM yang sudah terjamah oleh akses digital, Debbie melihat masih banyak atau mayoritas usaha mikro di Pasar Rakyat yang belum terjamah oleh teknologi digital.

Karena itu, Debbie pun berusaha untuk mencari dan mengembangkan teknologi digital yang bisa menjadi solusi bagi “lima pain points” yang ada di Pasar Rakyat di Indonesia.

“Hampir semua pedagang di Pasar Rakyat tidak memiliki pencatatan digital (POS atau Point of Sales atau sistem Kasir). Padahal, salah satu syarat perbankan untuk memberikan akses kredit mikro itu harus memiliki pencatatan digital untuk transaksi penjualan dan pembelian,” tambahnya. Aplikasi POS yang ada di sektor usaha sekarang terlalu mahal dan tidak terjangkau bagi kalangan mikro.

Pentingya Teknologi dan Literasi Digital

Debbie mengatakan INAmikro memiliki misi sosial penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai literasi digital dan keuangan dan proteksi usaha.

Sebab, pengetahuan mengenai literasi keuangan dan digital merupakan kebutuhan pokok yang azazi agar pedagang di pasar rakyat atau pengusaha mikro bisa menikmati fasilitas perbankan, financial inclusion dan berbagai hal untuk meningkatkan usaha mereka.

“Seharusnya, dengan adanya teknologi digital, usaha mikro mereka bisa scale up atau mengembangkan usaha mereka menjadi lebih besar. Namun, kurangnya literasi digital dan finansial membuat digitalisasi tidak berdampak di sektor mikro,” tambahnya.

Melalui INAmikro, Debbie berusaha melayani pedagang mikro di Pasar Rakyat, khususnya, dan berbagai pengusaha mikro di sektor lainnya. Debbie sengaja memilih fokus pertama ke Pasar Rakyat. Sebab, Pasar Rakyat bagi Debbie merupakan jantung perekonomian Indonesia dan tempat berdagangnya kaum pengusaha mikro dan tempat berjual beli bagi pengusaha mikro dengan sektor rumah tangga dan konsumen akhir.

“Jadi, misinya INAmikro ini adalah digitalisasi usaha mikro di Indonesia agar pengusaha mikro bisa mendapat kesempatan untuk scaling up usahanya,” tambahnya.

Untuk menjalankan misi tersebut, Debbie berupaya bekerjasama dengan berbagai pihak dan berusaha mengembangkan teknologi yang semakin “user friendly” agar bisa digunakan dengan mudah dan terpercaya oleh berbagai kalangan di sektor mikro.

“Kami sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah Jakarta, BNI, BRI, dan Mandiri, juga berusaha mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan para pelaku usaha mikro. Teknologi tersebut juga terkoneksi dengan sistem perbankan tersebut,” ucap Debbie.

Selain bekerja sama dengan berbagai pihak, Debbie juga menurunkan Kakak Mentor untuk terjun langsung ke pasar agar bisa membimbing para pelaku usaha mikro tersebut untuk menggunakan teknologi digital mikroApps.

“Pelaku usaha mikro sebagian besar masih awam teknologi. Jadi, kita harus terjun langsung memperkenalkan dan membimbing mereka dalam hal penggunaan teknologi tersebut di lokasi tempat mereka berusaha yaitu di lokasi pasar,” tambahnya.

Kakak Mentor tersebut direkrut oleh INAmikro. Juga INAmikro akan berkolaborasi dengan Universitas Pelita Harapan maupun berbagai Universitas ternama untuk membantu INAmikro  memperkenalkan pentingnya teknologi digital dan literasi finansial serta literasi digital ke para pelaku usaha mikro di Pasar Rakyat.

Debbie sengaja memilih para mahasiswa. Menurut Debbie, mahasiswa adalah agen perubahan terpenting yang sudah biasa berkutat dengan teknologi digital, merupakan generasi native digital.

Hal ini bertujuan agar mempermudah dirinya dalam mengerahkan para mahasiswa terjun langsung ke pasar untuk membimbing, melatih dan memberdayakan para pelaku usaha mikro untuk menggunakan teknologi digital dalam usahanya.

Sekilas Tentang INAmikro

INAmikro didirikan oleh Debbie R. Sianturi dengan misi sosial untuk memberdayakan dan menaik-kelaskan pedagang mikro di Pasar Rakyat di saat masa pandemi Covid-19 dan terutama di era digital ini.

Untuk mewujudkan misi tersebut, INAmikro di bawah naungan Debbie mencoba berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan, Bank Indonesia, pemerintah provinsi (Pemprov) dan pemerintah daerah (Pemda), pemerintah kota (Pemkot) untuk meningkatkan literasi digital dan literasi keuangan di wilayah terkait sehingga para pengusaha mikro bisa mengakses kredit usaha rakyat (KUR) atau kredit mikro dari perbankan nasional dan bank daerah.

Melalui INAmikro, Debbie juga berharap para pengusaha mikro memiliki peluang untuk menaik-kelaskan usahanya dari level mikro ke level kecil dan seterusnya ke atas dengan terkonek melalui platform mikroApps dengan berbagai pemain e-commerce dan e-logostik untuk meningkatkan omset usaha mereka.

Kolaborasi dengan Pemprov dan Pemda serta Pemkot tersebut diharapkan agar mereka dapat meraih akses ke dashboard mikroApps untuk transaksi penjualan dan pembelian serta harga sembako di pasar rakyat setempat secara real real time. Kolaborasi juga diharapkan mampu menciptakan peningkatan pendapatan pengusaha  mikro yang turut meningkatkan pendapatan per kapita di Pemprov dan Pemda terkait. 

Para pedagang mikro di Pasar Rakyat yang tergabung sebagai anggota INAmikro juga akan mendapatkan berbagai manfaat berikut:

  • Terkoneksi dengan mikroApps dan menjadi “bankable”.
  • Memiliki kartu ATM BNI COMBO & memiliki VA(Virtual Akun) BNI.
  • Dibantu membuat NIB sebagai izin usaha mikro.
  • Terkonek dengan e-payment: QRIS, kartu kredit dan kartu debit.
  • Mendapat POS (Cashier) Apps untuk mencatat pembelian & penjualan secara digital.
  • Terkoneksi Dengan Ekosistem Digital : e-payment,e-commerce, e-logistic dll.
  • Mendapat edukasi dalam pengajuan kredit mikro (financial inclusion).
  • Mendapat edukasi agar  mampu mengembangkan usaha dan jaringan usaha.

Selama tahun 2021, INA mikro telah melakukan digitalisasi di 11 lokasi Pasar Rakyat di Jakarta dan Bekasi, seperti Pasar Mayestik Pasar Jatinegara, Pasar Cipulir, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Santa, Pasar Baru, Pasar Jembatan Item, Kampung Pulo , Loksem Sudirman, VJS Kuliner (Bekasi), RW 10 Semper Sukapura.

INAmikro telah memiliki 2.851 pedagang binaan yang menjadi anggota program INAmikro. Total deployment Mikroapps dan pembukaan Rekening VA BNI per 5 November 2021 mencapai 1.335 pelaku mikro di pasar DKI Jakarta dan Bekasi.

Total pembuatan Legal Usaha NIB di Pasar Rakyat per 5 November  2021 ada sekitar 1.410. Dari 1.410  pedagang yang membuat Ijin Usaha Mikro ada 610 pedagang telah menerima bantuan bagi pelaku usaha mikro (BPUM).

INAmikro juga telah berkolaborasi dengan startup Grab, Tokopedia dan layanan uang elektronik LinkAja, payment gateway Faspay supaya terkonek dengan sistem pembayaran credit card.

“MikroApps sebagai platform aggregator transaksi digital” untuk usaha mikro semacam ini  adalah pionir di Indonesia dan hampir tidak memiliki pesaing," katanya.

"Untuk kedepannya, kami melalui Yayasan Bina Mikro Mandiri ingin fokus untuk menjalankan misi sosial kami di seluruh area Jawa dan Bali. Kami ingin semua pengusaha mikro lebih melek literasi digital dan keuangan agar bisnis mereka bisa berkembang dan naik kelas,” ungkap Debbie.


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tanah Luas dan Murah cocok untuk Investasi di Dekat Calon Ibukota Kabupaten Bogor Timur Angsuran 12 Kali

Tanah Luas dan Murah cocok untuk Investasi di Dekat Calon Ibukota Kabupaten Bogor Timur Angsuran 12 Kali


Lebih Lengkap

Trending

Melek Literasi Keuangan Pasar Modal melalui Pengenalan Capital Market

Melek Literasi Keuangan Pasar Modal melalui Pengenalan Capital Market


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tanah Luas dan Murah cocok untuk Investasi di Dekat Calon Ibukota Kabupaten Bogor Timur Angsuran 12 Kali

Tanah Luas dan Murah cocok untuk Investasi di Dekat Calon Ibukota Kabupaten Bogor Timur Angsuran 12 Kali


Kavling Jonggol Tanah Kavling dengan Harga Bersahabat di Lokasi yang Menjanjikan

Kavling Jonggol Tanah Kavling dengan Harga Bersahabat di Lokasi yang Menjanjikan


Investasi Tanah 70an Juta dengan Prospek Terbaik di Kavling Jonggol Angsuran 12 Kali BONUS PONDASI

Investasi Tanah 70an Juta dengan Prospek Terbaik di Kavling Jonggol - Angsuran 12 Kali BONUS PONDASI


Investasi Tanah Murah Strategis di Bogor Timur 50 Jutaan

Investasi Tanah Murah Strategis di Bogor Timur 50 Jutaan


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru