Kepada Buldanul Khuri, Seno Gumira Ajidarma: Aku Menerbitkan Maka Aku Ada

Bernas.id - Seno Gumira Ajidarma (SGA) memberikan kutipan Aku Menerbitkan Maka Aku Ada kepada Mas Buldan, sapaan akrabnya, di Pameran Arsip 25 Tahun Buldanul Khuri Berkarya, Festival Buku Moco Sik . Disebut SGA, kutipannya ini muncul karena generasi sekarang merupakan generasi kutip-mengutip quote, selalu butuh quote, Jogja Expo Center, Yogyakarta, Jumat 20 April 2018.

Dikatakan SGA, kita sudah dengar cerita Mas Buldan, jadi kutipan tersebut cocok. “Jadi menerbitkan itu bukan sekedar kita punya uang. Saya sendiri berpengalaman sebelum Mas Buldan. Saya menerbitkan buku pertama misalnya Emha Ainun Nadjib, saya yang menerbitkan, penerbit Pabrik Tulisan namanya di Jogja. Ini cuma 100 eksemplar sekitar tahun tujuh lima tujuh enam, saya masih SMA, bayangin tuh jadi produser. Dan salah cetaknya sampai minta ampun. Jadi Emha ya sebel banget tuh, saya tahu itu, tapi sangat sopan waktu itu beliaunya. Jadi itu M frustasi namanya sehingga ketika diwawancarai wartawan, beliau bilang, bakar sajalah kumpulan frustasi ini,” bebernya.

Lanjut cerita SGA, kemudian menerbitkan buku pertama karya Linus Suryadi AG “Langit Kelabu” cuma seratus biji juga, lalu buku Ade Mulyadi Masardi yang suatu ketika entah kapan jadi jubirnya Gusdur. “Jadi artinya, saya mengenal passion itu, nggak usah jadi orang kaya dulu jadi penerbit itu. Saya itu, waktu itu jual telor. Dari mana? Orang tua saya punya peternakan ayam, nggak banyak, tapi bisa saya ambil telornya dua puluh, jual, terus jual. Cukuplah nyetak seratus itu. Passion. Dititipkan di Him Housing, Gunung Agung, dua minggu saja sudah habis, ya seperti itu,” paparnya.

Diakui SGA, ia mengerti benar tentang dunia Mas Buldan, yang jatuh bangun, nerbitin lagi, nerbitin lagi sampai hari ini, entah untungnya apa, kadang untung kadang tidak. “Bayangkan betapa penting buku itu, nggak ada, nah mana bukunya? Kita ingat sekarang, kita hidup dalam abad arsip, archive, tanpa itu apa artinya. Internet klak klik apa itu, nggak jalan. Sepertinya semua ada, padahal tidak. Yang mana yang nggak ada, ya yang hilang itu, nggak ada,” katanya.

Untuk itu, menurut SGA betapa penting yang namanya idealisme arsip dokumentasi dan seterusnya, meskipun untuk membangkitkannya mahal, misal per sampul scan dan nggak bisa balik kayak semula, belum nyarinya kalau dihitung biayanya berapa?

SGA pun menceritakan pertemuan awalnya dengan Mas Buldan. “Saya mau cerita dari awal nih, saya kenal dengan Mas Buldan. Suatu hari, muncul di kantor Jakarta Jakarta itu, seorang pemuda berkaos oblong plek-plek keringat di kaos, nggak tahu naik apa, entah bis kota. Bersediakah Mas Seno diterbitkan kumpulannya, buku pertama untuk Bentang,” ucapnya.

Lanjut SGA, buku pertama di Bentang ini berbeda karena dalam posisinya dijauhi orang ketika Orde Baru, dalam posisi semua cerita pendeknya (cerpen) itu mengembara. “Ketika ketahuan, pokoknya Seno itu kalau Timor-timor jangan dimuat, bahaya. Berkeliling, enam pertama gampang masuk Kompas. Enam ke belakang, wah bisa dua tahun sampai ketemu penerbit yang nggak ngerti dia ini bahaya. Majalah Hidup yang nggak tahu politik, masuk. Kadang-kadang gitu,” urainya.

Waktu itu, lanjut SGA, kayaknya agak populer cerpen-cerpennya itu, ada pembacaan cerpennya TIM. “Nah, Buldan dengan kerdus dan tumpukan buku Bentang, dibawa dijual kayak orang asongan tanya ‘Mas boleh nggak jual di depan pintu arena. Oh iya, silakan saja, pokoknya gelarlah di situ,” kata SGA.

Diceritakan SGA, cerpen-cerpennya itu dibaca oleh para superstar kesenian waktu itu, Mamang Khairul Umang, Neni Al Kharim, Dedi Miswar, Renny Djayusman. “Ya itu saya kira bagian awal dari perjalanan bentang. Kayak naskah Jazz Parfum Presiden itu, dalam situasi posisi saya dicekal, siapa mau menerbitkan naskah saya itu. Saya kirim 10 bab pertama ke Mas Buldan. Kalau Anda setuju, saya terusin kalau nggak saya biarkan saja. Oh setuju langsung,” ucapnya.

Bagi SGA, dengan adanya 60 lebih penerbit indie di Jogja merupakan sebuah bentuk passion bahwa menerbitkan buku menjadi bagian yang penting dalam hidup dan kebudayaan Indonesia ini. “Saya kira tetaplah bertahan karena menerbitkan buku itu sangat penting meski buku yang sama bisa keluar di media digital/online, tapi ini tetap harus ada, sama seperti fotografi semua orang bisa tinggal forward fotonya, kan tetap ada orang pameran foto dengan kertas-kertas mahal super canggih yang tidak ada di sini. Itu harga perlawanan, harga perjuangan. Bukan tak ada artinya, lihat kita belum tahu apa yang terjadi,”katanya.

SGA mengingatkan dunia radio ketika tv muncul, pasti mati, nggak. “Radio menjadi bisnis yang unik ya, radio female, radio dangdut, radio tanpa lagu, politik tok, wawancara tok,variasinya luar biasa dan hidup, nggak mati, nggak miskin juga. Jangan khawatir dunia ini masih bisa berubah lagi. frankfurt book fair semua itu cetak kan, itu berjuta-juta orang sengaja datang dari seluruh dunia untuk hadir,” tukasnya. (Jat)   


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul


Lebih Lengkap

Trending

Sales Course yang Jamin 99 Persen Penjualan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul

Rumah Cantik 300 Jutaan - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Cantik di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Pertumbuhan Ekonomi Baru dan Jalur Bandara NYIA

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up